Jumat, 09 April 2010

Peer Holm Jorgensen

Peer Holm Jorgensen
Jakarta 1965 dan CIA


KARENA tergoda oleh semangat petualangannya untuk melihat banyak negeri, manusia, dan kebudayaannya, seorang remaja belasan tahun di Kopenhagen Denmark, nekat meninggalkan sekolahnya. Ketimbang meneruskan sekolahnya, ia memilih menjadi seorang asisten koki di satu kapal dagang, yang dengan itu ia bisa pergi berlayar ke berbagai tempat di seluruh dunia seperti yang diimpikannya.

September 1965, pengembaraan sampailah anak muda itu di Tanjung Priok, Jakarta. Indonesia berada dalam situasi politik yang genting. Penculikan para jenderal dengan PKI yang dituding sebagai pelakunya.

Kasper, anak muda itu, segera tahu bahwa ia berada di tempat yang salah. "Kesalahannya" bertambah lagi ketika di tengah situasi yang gawat semacam itu, menjalin cinta dengan gadis Indonesia blasteran Belanda-Padang. Lengkaplah petualangan Kasper, cinta yang rumit di tengah situasi negeri yang mendebarkan.

Perjalanan dan petualangan Kasper di Indonesia inilah yang kemudian ditulis Peer Holm Jorgensen menjadi novel berjudul The Forgotten Massacre. Meski banyak mengungkap data temuan sejarah, Peer cepat menegaskan bahwa ia bukanlah sejarawan. "Saya juga bukan politikus," ujar Peer Holm Jorgensen dalam diskusi di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Senin (5/10).

Sebagai novel, The Forgotten Massacre, terbilang unik. Banyak kalangan menyebut novel ini sebagai autobiografi-fiksi. Tokoh Kasper dalam novel itu tak lain adalah representasi dari Peer, yang di sana-sini dibaurkan dengan unsur-unsur fiksi terutama pada bagian keterlibatan orang-orang CIA di tengah situasi chaos ketika itu. Namun, fiksi yang dibangun oleh Peer bukanlah melulu imajinasinya sebagai pengarang, tetapi mendasar pada riset yang suntuk selama bertahun-tahun.

Berikut petikan wawancara dengan pengarang yang juga bergerak di bidang penerbitan, yang getol menerbitkan buku perihal sejarah dan masa depan umat manusia ini.

Sebelum Anda datang ke Indonesia pertama kali pada 1965, kapan Anda pertama mengenal Indonesia?

Sebelum 1965, tidak banyak yang saya ketahui tentang Indonesia. Saya hanya membacanya di surat kabar di Denmark, misalnya, saya pernah membaca artikel tentang konfrontasi pada periode pendudukan Belanda di Bali. Saya sangat tertarik dengan episode itu, jadi ada pertempuran di Bali pada zaman kolonial Belanda. Lalu ada juga koran yang bercerita tentang Sumatra dan juga ada koran Eropa yang berkantor di Indonesia dan memberitakan tentang Indonesia. Selain itu, saya mendapatkan cerita tentang Indonesia dari guru sejarah yang bercerita tentang Indonesia dan Asia pada umumnya. Guru saya juga bercerita tentang Konferensi Asia Afrika (KAA). Itu sangat menarik bagi saya dan teman-teman saya sehingga kami sering kali bercanda dengan mengganti nama masing-masing dengan nama para pemimpin negara yang berkumpul di Bandung tahun 1958 itu, seperti misalnya, ada yang dipanggil Soekarno, Nehru, dan lain-lain.

Apa pentingnya novel ini untuk publik, terutama buat kami?

Saya membuat novel itu bukan khusus untuk orang Indonesia, tetapi untuk semua orang, khususnya sesama orang kulit putih. Saya ingin mengingatkan mereka pada konflik di seluruh dunia, seperti akhir-akhir ini di Irak. Saya mengingatkan kepada orang Eropa untuk tidak melakukannya lagi di masa modern ini. Memang benar, bahwa konflik-konflik fisik seperti rasisme sekarang sudah tidak lagi terjadi, tetapi konflik-konflik itu berubah menjadi penguasaan ekonomi. Jadi, Eropa masih membuat dominasi untuk kekuatan ekonomi. Mereka membatasi kekuatan untuk terus menjaga agar sejumlah negara tetap berada dalam kemiskinan, power to keep them poor. Wall Street mengendalikan kemakmuran negara agar yang miskin dibiarkan.

Saya ingin mengingatkan kepada orang-orang Eropa tentang persamaan derajat. Oleh karena itu, dalam novel ini saya melukiskan pergaulan manusia antarbangsa, termasuk dengan orang-orang lokal (Indonesia), bagaimana orang Prancis, Jerman, dan orang Indonesia-Cina bergaul. Saya ingin bercerita juga tentang persamaan hak, termasuk di bidang ekonomi. Di Denmark ada suatu kebijakan untuk menjamin kestabilan harga kepada petani, jadi petani tidak overproduksi sehingga harga barang menjadi lebih murah. Ada juga hal lain, seperti jangan sampai produk-produk lokal harganya lebih mahal dibandingkan dengan produk orang luar. Di luar itu, orang Eropa tetap memiliki kebiasaan buruk, selalu merasa superior dan berhak untuk mengatur bangsa-bangsa lain.

**

ADALAH William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Tenggara 1962-1967, suatu hari pada 1990 melontarkan jawaban menarik atas pertanyaan seputar benar tidaknya CIA terlibat di Jakarta 1965. Kata dia, "Mungkin kami terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa..."

Pernyataan Colby menjadi penting bagi Peer untuk lebih menyuntuki peristiwa 1965 di Jakarta dan apa serta bagaimana sesungguhnya keterlibatan CIA di dalamnya. Dalam banyak data sejarah, keterlibatan AS di Indonesia bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Sejak pemberontakan PRRI/Permesta 1950-an, keterlibatan AS dan CIA di Indonesia tampak dengan jelas. Hal ini bisa dipahami karena ketidaksukaan AS pada pemerintahan Soekarno yang lebih dekat dengan ideologi sosialis.

Ada jeda waktu yang cukup lama dari tahun 1965 hingga akhirnya novel ini terbit, mengapa selama itu dan bagaimana Anda mendapatkan akses ke CIA?

Selama perjalanan menjadi pelaut sampai tidak berlayar lagi pada 1969, saya tidak mengikuti semua peristiwa itu karena keterbatasan sumber informasi. Lalu setelah kembali pada aktivitas saya dan mengunjungi beberapa negara, tidak sebagai pelaut, pada 1993 saya memutuskan untuk menuliskan tentang itu semua. Dari situ saya memulai banyak riset. Saya menemukan sejumlah artikel menarik tentang Indonesia yang diterbitkan di beberapa surat kabar Amerika. Akan tetapi, dari sejumlah artikel banyak yang tiba-tiba dihentikan penulisannya dan saya menyangka pasti ada sesuatu karena pada artikelnya sudah menyebutkan CIA. Dalam proses pengumpulan data, saya selalu berpegang kepada pedoman "jika kamu tahu apa yang kamu cari, kamu pasti akan mendapatkan banyak hal". Dengan keyakinan itu, saya check and recheck dari berbagai sumber, membaca buku, siapa penulisnya, juga buku-buku lainnya.

Dari hasil riset Anda mengenai CIA dan lain-lain di Indonesia, siapa "think tank" CIA di Indonesia pada saat itu?

Mengenai hasil riset, saya berkesimpulan orang Indonesia bukan master mind dari semua (yang memplot) yang terjadi pada 1965 itu. Saya sangat mempercayai, CIA berada di balik semua itu. Orang Indonesia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena semua sangat kacau dan tidak tahu siapa yang memberikan perintah. Yang menarik, ketika saya di Surabaya pada 1965, ketika sedang duduk-duduk di bar, tentara datang karena mencurigai ada kapal Jerman yang menyembunyikan anggota PKI. Lalu mereka yang berada di bar itu ditembaki, ada yang ditangkap, bekas cedera saya masih ada. Empat puluh detik berlalu sangat cepat, ada tembak-tembakan, saya diringkus lalu dibawa ke jip, untuk dibawa kembali ke kapal. Ketika sampai di kapal, di belakang saya masih terdengar suara tembakan. (Ahda Imran)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=112821

Peer Holm Jorgensen, Pengarang The Forgotten Massacre

“First we had TVOne canceled the interview because of the earthquake,” ujar Peer mengenang kejadian yang dialaminya selama di Jakarta dan kemudian di Bandung, “and now this radio, because of the lightning.” Acara pertama Peer, pengarang The Forgotten Massacre, di Indonesia yang sedianya tampil TVOne batal gara-gara liputan gempa di Padang. Kemudian, ketika ingin diwawancarai oleh Radio KLCBS di Bandung, acara tersebut pun batal gara-gara sebagian peralatan radio terkena sambaran petir.

Dari Jakarta dan Bandung, Peer rencananya mengisi acara di Toko Buku Togamas Petra, yang terletak di Jl. Pucang Anom Timur No. 5, Surabaya. Lagi-lagi, acara Peer ini gagal karena ada demonstrasi yang melarang Peer untuk tampil di toko buku tersebut. The Forgotten Massacre, sebuah novel, memang mengajak para pembacanya untuk melihat Tragedi 1965 melalui kacamata Eropa. Peer besar di Kopenhagen. Pada usia 16 tahun, dia meninggalkan sekolah dan berkeliling dunia dengan kapal dagang. Dalam petualangannya itulah dia sempat mampir ke Indonesia saat Tragedi 1965 berlangsung dan Peer mengisahkannya.

Setelah mengalami kegagalan untuk yang ketiga kalinya, Peer pun terbang ke Bali. Dia memiliki kesempatan untuk meluncurkan novelnya itu di salah satu acara yang diselenggrakan oleh panitia Ubud Writers Festival. Dalam acara peluncuran bukunya itu, Peer tampil di Uma Café, Ubud, pada Kamis, 8 Oktober 2009, pukul 16.00 - 17.00 Wita. Lagi-lagi, Peer seperti mengalami kegagalan karena audiens yang menghadiri acara Peer hampir semua orang asing. Padahal buku yang diluncurkan adalah buku terjemahan dalam edisi bahasa Indonesia.


Pada hari berikutnya, Peer menghadiri sebuah acara yang kurang-lebih bertajuk tentang bagaimana menulis buku dengan latar belakang sejarah. Acara ini masih menjadi rangkaian acara di Ubud Writers Festival. Salah satu pembicara dalam acara tersebut kemudian menyebut-nyebut nama Peer. Karena Peer hadir di acara itu, dia pun memperkenalkan diri. Akhirnya, orang pun mengenali Peer. Bahkan, yang mengejutkan, ada seorang peserta yang mengetahui tentang demonstrasi yang melarang Peer tampil di Surabaya.

Dan puncaknya adalah ketika Peer, pada suatu hari, berada di sebuah lounge di hotel yang ditempatinya di Ubud. Ketika menuju lounge itu, Peer melewati seseorang yang sedang membaca koran. Peer merasa terkejut karena tiba-tiba disapa oleh si pembaca koran yang dia tidak mengenalinya. Rupanya, si pembaca koran itu ingin menunjukkan kepada Peer tentang sebuah tulisan tentang Peer. Koran yang memuat tulisan tentang Peer itu adalah koran Jakarta Post.

Akhirnya, ketika Peer menghadiri acara penutupan Ubud Writers Festival, Peer bagaikan selebriti. Peer dikenali banyak orang dan kegagalan-kegagalan terkait dengan acara Peer di Jakarta, Bandung, Surabaya pun tertutupi oleh ending yang tidak terduga.[]

Edisi 15 Oktober 2009
Sumber:http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=48&fid=484

Peer Holm Jorgensen: Perspektif Orang Denmark atas Tragedi 1965

Penulis Peer Holm Jorgensen mungkin sudah lupa banyak kata bahasa Indonesia yang dia pelajari 43 tahun lalu ketika dia masih menjadi pelaut. Tapi ingatannya tentang tragedi 1965, yang terjadi ketika kapalnya berlabuh di Indonesia, masih terpatri kuat dalam ingatannya.

Kenangan Jorgensen tentang masa-masa bergejolak itu bisa dibaca dalam novelnya The Forgotten Massacre (Denmark: Dar Glemte Massakre), yang diterbitkan oleh Qanita (Kelompok Mizan) dan terjadwal untuk diluncurkan pula dalam ajang Ubud Writers & Readers Festival di Ubud, Bali, minggu ini.

“Banyak orang bertanya bagaimana saya masih ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi 43 tahun lalu. Tapi peristiwa itu memang menjadi sesuatu yang saya ingat dalam sisa kehidupan saya,” kata Jorgensen.

Kapalnya berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada September 1965. Itu adalah kunjungan keduanya ke Indonesia setelah yang pertama pada 1963, dan dia bisa merasakan ketegangannya di sekeliling. “Jika Anda bekerja di pelabuhan, Anda akan tahu rutinitasnya, Anda akan tahu apa yang akan terjadi berikutnya,” katanya. “Pada 1 Oktober, tak ada orang yang datang dan tak ada penjelasan apa pun. Yang ada malah para tentara, tapi waktu itu rasanya normal saja. Kami juga tinggal sehari lebih lama.”

Dari Jakarta, kapalnya bertolak ke beberapa pelabuhan lain di Indonesia, termasuk ke Palembang, Sumatra Selatan, dan Surabaya, Jawa Timur, di mana dia mengalami pengalaman paling membekas seumur hidup. Di pinggir Sungai Musi, Palembang, dia berusaha menolong beberapa orang Indonesia untuk pergi ke Palembang, tapi kemudian mereka bertemu sekelompok orang yang menghadang mereka. Salah seorang dari mereka mengacungkan senjata api ke arah Jorgensen dan mengusirnya pergi setelah melucuti pakaian dan barang-barang Jorgensen.

“Saya yakin saya mendengar suara tembakan. Orang-yang yang saya coba bantu itu ditembak,” katanya. “Pada waktu itu, Anda tidak bisa membedakan mana yang tentara dan mana yang bukan. Ada terlalu banyak kebingungan.”

Di Surabaya, Jorgensen sedang berada di sebuah bar ketika peristiwa tembak-menembak pecah. Dia ingat ada seorang pria yang masuk ke bar dan penampilannya seperti tentara. Dia diikuti oleh seorang pria lain yang juga kelihatan seperti tentara. Lalu mereka mulai saling menembaki.
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu karena saya bersembunyi di bawah meja. Mereka menginjak tangan saya dan memukul saya dengan gagang senjata.”

Dari Surabaya, kapalnya kembali ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Hong Kong. Selama perjalanan ke sana, Jorgensen dalam keadaan setengah lumpuh, tidak bisa berjalan maupun bekerja. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan dan mendapat jahitan di sekujur tubuhnya.

Selama dia tinggal pada 1965, dia berkesempatan bertemu dan berbicara dengan banyak orang Indonesia, yang sebagian besar berkata bahwa Presiden Sukarno bisa melakukan apa pun yang dia mau. “Semakin banyak orang yang saya tanyai, semakin banyak pula jawaban berbeda yang saya dapat,” katanya.

“Beberapa orang bahkan tak mau menjawab. Itu adalah masa penuh ketegangan, tapi pada saat yang sama sebenarnya mereka orang-orang yang baik. Pada saat itu, Indonesia benar-benar membekas dalam hati saya. Saya tak pernah lupa apa yang terjadi.

“Saya tidak ingin menuduh siapa pun dengan buku ini,” lanjutnya. “Banyak orang tidak tahu apa yang terjadi waktu itu, bahkan Soeharto. Dia harus melakukan sesuatu yang dia rasa benar waktu itu. Saya yakin ada orang lain yang melakukannya di Indonesia. Tidak ada tentara dan partai politik yang terlibat. Saya pikir itu adalah permainan CIA,” tambahnya, merujuk ke agen intelijen Amerika itu.

Jorgensen mulai menulis naskah ini pada 1993, tapi dia berhenti karena tidak menemukan sumber yang bisa mengonfirmasi keyakinannya akan apa yang telah terjadi. Kemudian dia menulis Backlog, sebuah buku tentang manajemen yang diterbitkan pada tahun 2000, dan May God Save America (Må Gud bevare Amerika), sebuah novel yang berkisah tentang pria kulit hitam yang menjadi Presiden Amerika Serikat, diterbitkan tahun 2006.

Sementara novelnya disambut hangat di Denmark, tidak ada penerbit Amerika yang tertarik menerbitkannya karena negara itu sedang menjelang pemilu bersejarah mereka.

Selama mengerjakan novel keduanya, dia menemukan apa yang dia sebut sebagai bukti bahwa CIA terlibat dalam Tragedi 1965. Dia menunjuk perkataan Robert Martens, yang bekerja di Kedubes AS di Jakarta pada 1965, yang mengatakan,”Tangan saya mungkin berlumuran darah, tapi tidak separah itu, kok!”

Dia membaca artikel yang ditulis Kathy Kadane di New York Times. Artikel itu juga menyangkal keterlibatan AS: ”Robert Martens bekerja sendirian sepenuhnya, tanpa izin dalam bentuk apa pun, itu jelas dinyatakan oleh para pejabat resmi.”

Komentar lain yang dilontarkan oleh William Colby, yang mengepalai Divisi Asia Tenggara pada 1960-an: “...mungkin. Saya tidak ingat. Mungkin kami memang terlibat. Saya sudah lupa,” juga menjadi benih bagi buku ketiganya ini.

Jorgensen berkata bahwa dia berharap buku ini bisa membantu orang Indonesia menyembuhkan luka yang ditimbulkan Tragedi 1965. “Saya tidak yakin pengadilan bisa membantu menyembuhkan luka ini,” katanya.

“Anda harus bisa menerima bahwa hal itu sudah terjadi, tapi tak perlu menuduh siapa pun. Itu tidak akan menyembuhkan apa pun. Daripada terus membalas dendam, mereka bisa membantu Indonesia, apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia, seperti kata Kennedy.

“Di jadwal saya tidak ada agenda untuk bertemu dengan para keluarga korban, tapi saya ingin sekali bisa melakukan hal itu,” tambahnya.

Lahir pada tanggal 3 April 1946, Jorgensen punya tempat istimewa dalam hatinya untuk Indonesia sejak dia masih bersekolah. Dia dulu punya guru yang pernah bercerita tentang rute tempat-tempat yang sangat jauh. Dia lalu menggambar rutenya sendiri di atlasnya dari Denmark ke tempat-tempat itu. Dia masih menyimpan atlas itu.

Gurunya juga bercerita tentang sebuah konferensi tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, dia dan teman-temannya saling memberi nama-nama julukan para pemimpin negara-negara muda yang lahir setelah Perang Dunia Kedua, seperti Sukarno, Nehru, Nkruma, dan Lumumba. “Nama saya waktu itu Sukarno atau Lumumba, tergantung topiknya,” katanya sambil tersenyum.

“Indonesia punya banyak hal untuk ditawarkan kepada dunia selain tenaga kerja murah dan pantai-pantai yang cantik. Indonesia bisa memainkan peran penting dalam kancah dunia, seperti yang pernah dilakukan Sukarno.”

Dibesarkan di Frederikshavn, kota kecil di pantai timur laut Semenanjung Jutland, di Denmark Utara, Jorgensen menghabiskan masa kecilnya di pelabuhan, yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya. Kadang-kadang dia berlayar ke laut dan memancing dengan para nelayan, yang sering mengajaknya bolos sekolah. Dia ingin sekali melihat dunia pada waktu itu. “Ketika berusia 15 tahun, saya memutuskan untuk melaut,” katanya.

“Saya tidak berani meminta izin orangtua, jadi saya meminta adik perempuan saya untuk bilang ke orangtua, dan mereka bilang, ’Kalau memang itu maumu, lakukan saja.’”

Dengan bekerja di dapur kapal, Jorgensen berkelana ke banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang dari beragam latar belakang, etnis, agama, dan gaya hidup, yang setiap pertemuannya membuatnya bertambah yakin bahwa setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama.

“Saya tidak terlalu suka dengan apa yang telah dilakukan oleh ras kulit putih kepada dunia. Anda tidak mempunyai hak melakukan tindakan-tindakan jahat hanya karena warna kulit Anda,” katanya. “Tapi ada sejenis rasisme baru bernama keuangan. Selama kita bisa membuat orang lain tetap miskin, kita bisa memegang kendali. Inilah sebabnya kanapa kita tidak melihat negara apa pun di Afrika yang berfungsi dengan baik.”

Dia meninggalkan laut dan kembali ke Denmark pada 1969 untuk merampungkan sekolahnya, dan menekuni banyak bidang setelahnya. Dia pernah bekerja sebentar di Departemen Sistem dan Keuangan di Maersk, perusahaan perkapalan besar asal Denmark, lalu mencoba bidang perfilman, dan menjadi konsultan sumber daya manusia.

Pada 2006, dia mendirikan perusahaan penerbitan bernama ISOTIA untuk menerbitkan buku-buku yang menghubungkan umat manusia dengan masa lalu mereka, melalui masa kini untuk menuju masa depan. Sekarang dia sedang menggarap buku-buku berikutnya. Satu tentang takdir, dan satu lagi tentang nafsu manusia untuk berperang.

Tulisan ini diterjemahkan secara bebas oleh Indradya Susanto Putra, salah seorang editor Mizan, dari Sunday Post edisi Minggu, 11 Oktober 2009, yang adalah edisi Minggu koran Jakarta Post.

Edisi 15 Oktober 2009
Sumber:http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=48&fid=481

Tidak ada komentar:

Posting Komentar