Indonesia 1965: di manakah CIA ...
Sejarawan h.w. brands mengupas seberapa jauh peran as dalam peristiwa g30s/pki.menurutnya as tidak ikut campur,sedang cia tidak tahu banyak. wartawati kathy kadane menyebut cia memberi daftar tokoh-tokoh pki.
ORANG Jawa mungkin akan bilang, orang Amerika itu geden rumongso alias g.r. Mereka cenderung merasa bahwa pergolakan dunia adalah akibat Amerika Serikat. Dalam kasus Indonesia, masih belum pudar dugaan bahwa AS ikut berpengaruh atas perubahan besar di sini di tahun 1965 dan 1966. Apalagi Kathy Kadane, wartawati kantor berita States News Services, Mei lalu, menyatakan bahwa CIA -- badan intelijen AS -- memberikan daftar 5.000 nama tokoh PKI pada TNI AD pada 1965, yang kemudian "dihabisi" setelah ambruknya G30S PKI. Seorang penulis di Washington Post kemudian bertanya lebih jauh: seberapa jauh sebenarnya keterlibatan AS -- khususnya CIA dalam usaha penggulingan Presiden Soekarno? Bukan rahasia lagi, CIA memang di tahun 1958 mendukung pemberontakan PRRI/Permesta yang antikomunis. Jadi, siapa tahu, badan rahasia yang ikut menggulingkan pemerintahan Presiden Allende yang komunis di Cili itu juga ada main di Jakarta. Pekan lalu, sebuah tulisan di International Herald Tribune mengakui bahwa sebetulnya sudah ada seorang sejarawan berwibawa yang telah menjawab itu. Pada edisinya Desember 1989 lalu, majalah Journalof American History memuat tulisan H.W. Brands, asisten profesor di Universitas A & M Texas. Sebagian besar bahan Brands berasal dari Perpustakaan Lyndon Johnson, yang ternyata mengoleksi juga semua korespondensi Kedubes AS dan laporan CIA selama masa pemerintahannya (1963-1968), yang kini boleh diketahui umum. Di bawah judul The Limits of Manipulation: How the United States Didn't Topple Sukarno, Brands menyatakan keyakinannya bahwa Washington tak ikut campur dalam terjadinya G30S-PKI yang mengakibatkan kejatuhan Presiden Soekarno. Menurut Brands,tatkala G30S-PKI terjadi, CIA tak tahu jelas apa yang dilakukan Jenderal Soeharto. Jika CIA benar telah berkomplot dengan TNI AD, pasti Washington tahu banyak tentang Soeharto. Pada 1960-an, Indonesia dipandang sangat penting danstrategis oleh AS. Pemerintahan Einsenhower, tulis Brands, umumnya menilai Soekarno bukan komunis dan menganggap kebijaksanaan yang dijalankannya sebagai seorang netralis yang bersemangat independen. Namun, para pejabat AS khawatir bahwa ambisi Soekarno bisa membuat dia salah perhitungan dan tidak bisa mengontrol lagi PKI. Konfrontasi dengan Malaysia yang dilancarkan Soekarno pada 1963 membuat waswas Presiden Lyndon Johnson. Membiarkan tindakan Soekarno dapat mengakibatkan perang terbuka yang bisa melibatkan AS, sedangkan menentangnya mungkin membahayakan investasi AS di Indonesia, serta bisa mempererat hubungan Soekarno dengan PKI. Johnson, atas nasihat Menlu Dean Rusk, menolak tekanan Kongres untuk mengambil sikap tegas pada Soekarno karena khawatir kemungkinan adanya pembalasan. Kebijaksanaan AS pada Indonesia kemudian berubah, yang pada dasarnya didasarkan pada dua aliran. Yang pertama, kelompok akomodasionis yang ditokohi oleh Dubes AS di Jakarta, Howard Jones. Jones percaya, pendekatan bersahabat terhadap Soekarno bisa mencegah perang Indonesia -- Malaysia, dan bisa melunakkan sikap anti-AS-nya. Kelompok kedua, kaum konfrontasionis yang menganut garis keras terhadap Soekarno, meliputi antara lain Menlu Dean Rusk dan asistennya, George Ball. Mereka khawatir, sikap lunak AS terhadap Soekarno bisa merusak kredibilitas AS. Makin meningkatnya Perang Vietnam juga membuat toleransi mereka terhadap gerakan kiri di negara-negara Asia lainnya makin tipis. Menurut Brands, para pejabat AS sulit mengerti perilaku Soekarno. Mereka mengerti bahwa Soekarno, sebagai lazimnya netralis, berusaha mengadu domba negara-negara superkuat buat kepentingannya sendiri. Tapi mereka, misalnya, tak bisa menduga ada apa di balik kampanye "Ganyang Malaysia" yang dilancarkan Soekarno. Karena benar-benar khawatir terhadap imperialisme Barat, untuk mengalihkan perhatian rakyat Indonesia dari kesulitan ekonomi, atau karena "kenakalan" Soekarno saja? Para pejabat AS menduga, meski selalu mendengungkan nada kekiri-kirian, Soekarno sebenarnya bukan seorang ideologue, tapi seorang improviser. CIA sendiri, yang melukiskan Soekarno sebagai politisi yang intuitif dan pemimpin massa yang sangat lihai, menilai kecondongan Marxisnya lebih bersifat emosional. Mengutip dokumen resmi, Brands menulis bahwa para analis Deplu AS menilai bahwa Soekarno menjalankan suatu kebijaksanaan yang "tidak direncanakan secara rinci dan matang, tapi lebih oportunistis dan berdasarkan situasi dan kondisi". Gaya Soekarno ini membuat dia bisa bermain di antara dua kekuatan besar yang ada di Indonesia saat itu: Angkatan Darat dan PKI. Sebuah laporan CIA pada 1964 menggambarkan bahwa Soekarno saat itu memiliki kekuasaan terbesar yang pernah dipunyainya selama 18 tahun menjabat presiden. Pada awal 1964, para penganut garis keras di Deplu AS mendukung usaha secara diam-diam untuk membuat TNI AD bertindak pada PKI. Mereka yakin, cepat atau lambat, TNI AD dan PKI pasti bentrok. Dan pemerintahan Johnson ingin, bila hal itu terjadi, para perwira TNI AD agar tahu bahwa mereka punya teman di Washington. Usaha AS untuk melunakkan sikap Soekarno kepada Malaysia tidak berhasil. Pada Maret 1964, Menlu Rusk menulis kepada Kedubes AS di Jakarta agar "berusaha membuat ABRI menekan Soekarno agar menghentikan sengketanya dengan Malaysia". Rusk juga menginstruksikan agar Dubes Jones dan atase militer AS menemui KSAD Jenderal Nasution dan pimpinan AD lainnya. Tiga hari kemudian, 6 Maret 1964, Jones menemui Nasution. Namun, Jones gagal memancing Nasution mengeluarkan pendapatnya tentang kemungkinan pengambilalihan kekuasaan oleh AD. Dua pekan kemudian, Jones mengunjungi Nasution lagi. Nasution mengatakan bahwa ABRI "tetap anti-PKI dan pro-AS". Jones, dalam laporannya, mengutip ucapan Nasution yang menduga PKI tidak akan berusaha mengambil alih kekuasaan, namun, bila hal itu terjadi, ABRI akan siap. Soekarno makin memusingkan AS tatkala melancarkan ucapannya yang terkenal go to hell with your aid, yang membuat para anggota Kongres AS gusar. Namun, para analis CIA kemudian menilai sikap Soekarno "membingungkan", setelah para informan CIA di dekat Soekarno melaporkan perubahan perilakunya, termasuk "kebutuhannya akan dana", yang konon disebabkan istri keempatnya. Menurut informan ini, beberapa teman Soekarno "merencanakan untuk membunuh" sang istri ini. Pada Agustus 1964 CIA menilai bahwa Soekarno makin membiarkan PKI meluaskan pengaruh, dan menganggap "Soekarno akan segera masuk perangkap PKI". Namun, Dubes Jones menganggap penilaian CIA itu terlalu kelabu, dan mengingatkan bahwa Soekarno pun harus menghadapi bermacam tekanan yang memaksanya memperlihatkan sikap anti-Amerika. Awal 15-65, Soekarno dilaporkan makin percaya diri. Kedubes AS, dalam laporannya ke Washington, mengutip sebuah sumber yang mengulangi ucapan Soekarno bahwa dia bisa mengendalikan PKI. "Suatu hari, saya akan mengambil alih PKI, tapi tidak sekarang," begitu konon kata Soekarno. Soekarno juga mengatakan, keterlibatan AS di Vietnam akan mengakibatkan perang antara AS dan RRC. Jika itu terjadi, AS harus membayar mahal untuk menjaga agar Indonesia bersikap netral. Atas usul Asisten Menlu AS George Ball, pada awal 1965 Johnson mengirimkan Ellsworh Bunker -- kenalan dekat Soekarno -- ke Jakarta, untuk memperbaiki hubungan RI-AS, karena makin gawatnya Vietnam membuat AS harus bisa mengendalikan Indonesia. Misi Bunker gagal. Namun, AS kemudian menuruti saran Bunker: Mengurangi jumlah personel Kedubes AS di Jakarta, dari beberapa ratus menjadi tinggal beberapa lusin. Tujuannya: Agar Soekarno waswas dan menganggap hal itu sebagai langkah awal pemutusan hubungan diplomatik oleh AS. Selain itu, bila nantinya TNI AD dan PKI bentrok, kehadiran personel AS yang sedikit itu bisa membuat "para jenderal AD tidak bisa didakwa sebagai pembela nekolim". Pada awal September, Dubes AS yang baru, Marshall Green, melaporkan bahwa sikap Soekarno saat itu "baik". Saat itu, kesehatan Soekarno, yang memburuk karena penyakit ginjalnya, membuat Jakarta penuh dengan desas-desus akan kemungkinan terjadinya kup. Menurut Brands, pembunuhan terhadap sejumlah jenderal AD pada 1 Oktober 1965 mengagetkan Kedubes AS. Selama beberapa jam di pagi hari itu, mereka menduga bahwa Soekarno meninggal atau tak mampu bertugas lagi. Kemudian, sedikit demi sedikit Kedubes AS mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi: Sekelompok perwira muda, di bawah Letnan Kolonel Untung, mencoba menghabisi pimpinan AD dan menewaskan enam jenderal dan melukai Nasution. Tatkala jelas bahwa Untung gagal, dan TNI AD di bawah Soeharto memukul balik, menurut Brands, para pejabat AS masih bingung siapa sebenarnya Soeharto. Pada 1 Oktober itu Green melaporkan ke Washington, ia belum tahu jelas apa peran PKI dalam penyerangan kepada para jenderal itu. Menurut Brands, CIA juga tak tahu banyak. Pada 1 Oktober pagi, mereka mengira Soekarno bersekutu dengan para penggerak kup, meski tidak punya bukti untuk itu. Para analis CIA kemudian menduga, "penggerak utama" kup itu mungkin Menlu Subandrio dan orang-orang komunis lain dekat Soekarno. Pihak Amerika kemudian tahu situasi Indonesia berubah drastis, tatkala laporan-laporan dari daerah muncul yang mengungkapkan bahwa pembersihan terhadap PKI bermula, para pejabat AS di Jakarta mula-mula khawatir bahwa TNI AD akan gagal memanfaatkan peluang yang ada. Pada 4 Oktober, suatu kelompok kerja di Gedung Putih melaporkan kepada Presiden Johnson bahwa TNI AD tampaknya belum memutuskan apakah mereka akan terus memukul PKI sampai menang mutlak. Maka, Pemerintah AS pun memikirkan, apa yang bisa diperbuat untuk memberi semangat kepada para perwira TNI AD. Green menyarankan agar, untuk sementara, AS tidak terlibat secara terbuka, tapi ia juga mengusulkan upaya terselubung "untuk menyebarkan cerita tentang dosa, pengkhianatan, dan kekejaman PKI". Pemerintah AS segan melaksanakan usul Green karena khawatir hal itu akan membuka peluang untuk kembalinya komunis. Ball melaporkan, "Saat ini TNI AD tak memerlukan bantuan material." Ball kemudian menginstruksikan Kedubes AS di Jakarta agar "sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan AD agar iktikad baik untuk menawarkan bantuan atau mendorong semangat mereka tidak dimanfaatkan oleh Soekarno dan Subandrio." Tatkala kemudian tampak bahwa Soekarno masih mendapat dukungan dari sebagian perwira ABRI, Pemerintah AS makin tidak ingin menimbulkan kesan bahwa mereka mendukung upaya melawan Soekarno. Para perwira Indonesia sendiri, tulis Brands, semula juga berhati-hati menerima bantuan AS. Namun, AS kemudian memberikan bantuan berupa walkie-talkie. Bantuan itu, Brands menulis, tidak mengakibatkan pembersihan terhadap PKI, paling banter cuma mempercepatnya. Apa pun yang dilakukan AS pada tahap ini, Pemerintah AS menganggap secara keseluruhan perkembangan yang terjadi menggembirakan. Pada pertengahan Desember, Ball melaporkan bahwa gerakan ABRI membasmi PKI "berjalan cukup cepat dan lancar". Sekitar saat yang sama, Green melaporkan dari Jakarta, "Pembasmian terhadap komunis berjalan terus." Pada Januari 1966, CIA menyatakan, "Era dominasi Soekarno sudah berakhir.... Dalam tiga bulan terakhir, prestisenya anjlok. Ia tidak lagi bapak dan pusat politik negara, dan menjadi orang tua yang pemarah." Tentang PKI, CIA melaporkan, "Angkatan Darat telah benar-benar menghancurkan PKI." Meski begitu, tulis Brands, Pemerintah AS masih enggan mendukung Jenderal Soeharto secara terbuka. Berdasar pengalaman, di masa-masa lalu Soekarno tahan banting, dan para pemimpin Amerika waswas dia bisa come back. Sementara itu, mereka juga belum yakin akan rencana Soeharto yang lain, selain membasmi komunis. Jika dia kemudian ternyata seorang nasionalis independen seperti Soekarno, AS mungkin hanya akan memperoleh sedikit manfaat dari peralihan kekuasaan itu. Pada Februari 1966, Robert Komer, seorang staf senior di Badan Keamanan Nasional, menggambarkan situasi Indonesia saat itu dalam memonya kepada Presiden Johnson, "Selama 4-5 bulan terakhir, sekitar 100.000 komunis tewas. Namun, apa yang bakal terjadi di negara dengan 100 juta penduduk ini masih belum jelas." Setelah kemungkinan bangkitnya kembali Soekarno makin tipis, sikap Pemerintah AS mulai berubah. Pada Maret 1966, mereka meluluskan sebagian permintaan bantuan Indonesia dan menyetujui mengirimkan 50.000 ton beras ke Indonesia. Brands kemudian membahas, seberapa jauh sebenarnya peran AS dalam perubahan pemerintahan di Indonesia. Menteri Pertahanan AS waktu itu, Robert McNamara, menekankan pentingnya peranan bantuan militer AS. Bantuan Amerika, tulis McNamara dalam suratnya kepada Presiden Johnson, "Telah berperan penting dalam menentukan sikap Angkatan Darat yang pro-AS dan antikomunis," dan "mendorong mereka untuk bergerak melawan PKI tatkala kesempatannya muncul." Menurut Brands, McNamara terlalu berlebihan menilai. Katanya, CIA juga menganggap begitu. Pada pertengahan 1966, penasihat Presiden pada Badan Keamanan Nasional, Walt W. Rostow, memerintahkan badan intelijen ini mengkaji pengaruh kebijaksanaan AS pada perkembangan di Indonesia. Rostow terutama berminat mengetahui dampak garis keras Pemerintah AS di Vietnam pada munculnya pemerintah baru di Indonesia. Kata Brands, CIA tidak menemukan hubungan antara keduanya. Direktur CIA Richard Helms melaporkan bahwa badan yang dipimpinnya "tidak berhasil menemukan bukti bahwa sikap tegas Amerika di Vietnam punya pengaruh pada perkembangan yang terjadi di Indonesia .... Apa yang terjadi di Indonesia bermula dari sana juga". Helms menyimpulkan, munculnya Angkatan Darat di pucuk kekuasaan "semata-mata merupakan perkembangan dari situasi politik setempat yang kompleks dan berlangsung lama". Meskipun ia sendiri mengakui, belum semua dokumen CIA dan Pemerintah AS pada masa itu telah dideklasifikasi, Brands menyimpulkan: AS tidak menggulingkan Soekarno. Susanto Pudjomartono
Tempo Majalah berita Mingguan
Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1990/08/04/NAS/mbm.19900804.NAS19146.id.html
Jumat, 09 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar