Jumat, 09 April 2010

Ketika CIA Menggusur "Diktator Komunis"

Ketika CIA Menggusur "Diktator Komunis"

TIDAK ada musuh permanen, kecuali kepentingan permanen. Itulah prinsip politik luar negeri AS. Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang amat sangat dekat dengan Presiden AS terlarut dalam kekuasaan diktatornya yang panjang, hingga lupa prinsip politik luar negeri Paman Sam itu. Maka ketika ia terjungkal, juga oleh dukungan AS kepada oposisi, ia pun terperanjat harus melalui pemeriksaan bea cukai saat tiba di Bandara Hawaii. Lebih gawat lagi, di tempat pelariannya ini Ny Imelda Marcos, yang baru kemarin First Lady dan dipuja-puja pers lingkungannya, harus berlaku santun di depan petugas bea cukai yang menanyai asal-muasal perhiasan yang dibawa itu. Keterangannya yang meragukan membuat petugas itu memutuskan menahan perhiasan yang nilainya jutaan dollar AS.

Esok harinya semua peristiwa ini muncul di jaringan media massa lokal, nasional, dan internasional. Rakyat Filipina tertawa girang melihat Imelda Marcos tunduk seperti pesakitan di depan tumpukan permata yang ditahan bea cukai. Sedang masyarakat dunia, termasuk tokoh-tokoh yang tadinya amat sangat ramah pada keluarga sang presiden, mencibir dan menyebut pasangan ini sebagai koruptor paling serakah di jagat ini.

Marcos mengalami stres berat, sebelum kemudian sakit-sakitan. Tetapi, pengadilan AS, atas permintaan Jaksa Agung Filipina, tetap menyeretnya atas tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM. Hingga saat terakhir, dalam kondisi diinfus di atas tempat tidur, Marcos tetap digiring mengikuti persidangan.

Inilah Amerika Serikat sesungguhnya. Para "sahabat" di lingkaran Gedung Putih, kini seolah menemukan badut baru yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, menyaksikan kondisi Marcos di persidangan melalui layar televisi. Marcos perlahan-lahan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Tidak satu pun di antara "sahabat-sahabatnya" itu datang melayat. Milyaran dollar AS kekayaan Filipina yang dibagikannya dalam bentuk proyek kepada pengusaha maupun pejabat AS, ternyata bukan jaminan sebuah bangunan persahabatan. Bagi Gedung Putih, Marcos adalah masa silam. Sekarang muncul penggantinya, Cory Aquino, yang harus dirangkul. Marcos "jatuh" setelah empat jam pesawat yang membawa Philipp Habib lepas landas meninggalkan Filipina. Utusan Pemerintah AS ini memberi lampu hijau bagi kelompok Jenderal Ramos melakukan pemberontakan.

Sebelumnya, Shah Iran yang menghamburkan milyaran dollar AS hanya untuk belanja peralatan perang, suatu industri utama AS, dan mengikuti keinginan Gedung Putih untuk tidak memberi sejengkal pun tempat perlindungan bagi pejuang Palestina, juga harus menanggung kecewa amat menyakitkan. AS menolak memberi tempat pelarian ketika Khomeini menumbangkannya dari tahta yang despotis itu.

Dalam penerbangan meninggalkan negerinya menuju AS, tiba-tiba saja Gedung Putih menolak kehadirannya. Pesawat terpaksa putar haluan menuju Mesir, karena hanya negara inilah yang bersedia menerima dengan segala konsekuensinya. Tidak lama kemudian Shah Iran menghembuskan napas akibat komplikasi stres.

Sejarah kekuasaan Shah Iran tidak dapat dilepaskan dari CIA. Berkat bantuan lembaga intelijen inilah kekuasaannya yang telah dipangkas parlemen, bisa dipulihkan kembali pada Agustus 1951 setelah militer menggulingkan pemerintahan PM terpilih Mossadegh. CIA menerapkan teori sindikalisme yang akrab dengan anarkisme.

Melalui partai sayap kanan, Tudeh, yang didanai hingga 19 juta dollar AS, massa turun ke jalan mendesak parlemen yang demokratis. Tuntutan diikuti pengerahan massa, mendesak dikembalikannya kekuasaan eksekutif kepada Shah Iran. Rekayasa untuk menimbulkan bentrokan massa pendukung Mossadegh dengan Tudeh di jalanan Kota Teheran yang mengakibatkan 300 orang tewas, mengondisikan militer yang condong pada Shah Iran mengambil alih kekuasaan.

Sejak itu AS mulai menancapkan bisnisnya di sektor perminyakan. Kermi Roosevelt, cucu Presiden Roosevelt, yang kala itu mengendalikan operasi CIA di Timur Tengah, tidak lama kemudian menjadi Wakil Presiden Gulf Oil. Inggris yang dibantu AS memulihkan kekuasaan Shah Iran, merelakan 60 persen sahamnya kepada perusahaan AS sebagai tanda terima kasih. Delapan perusahaan AS lainnya mendapat konsesi melakukan pengeboran minyak.

Ketika Shah Iran berada di ujung tanduk Revolusi Islam yang begitu dahsyat, AS mencoba mendekati Khomeini, tetapi gagal. Ketika Pemerintah Islam ditegakkan, lagi-lagi AS mencoba mengambil hati dengan memberi daftar nama 200 agen-agen KGB di Iran. Pengawal Revolusi Iran menerimanya dan mengeksekusi semua agen KGB tersebut, tetapi hubungan dengan AS tetap haram bagi Teheran. Bahkan kemudian menyandera staf kedutaan AS. Kekejaman Savak, algojo Shah Iran yang dididik CIA, serta pengisapan kekayaan negeri ini, membuat pemerintahan Islam di Teheran muak melihat AS.

Pada masa Perang Iran-Irak, AS kembali mencoba merangkul Iran dengan menjual peralatan militer. Sementara kepada Irak dijual foto-foto satelit konsentrasi Pengawal Revolusi Iran. Tetapi, pemimpin Irak lebih cerdik. Melalui pintu belakang, mereka membocorkan pembelian senjata itu, hingga publik AS geger.

Penjualan senjata yang di luar sepengetahuan Kongres itu kemudian berubah menjadi skandal besar setelah Senat membentuk komisi pengusutan, karena ternyata melibatkan Presiden AS beserta jajarannya. Iran Gate dengan tokoh utama Letkol Oliver North adalah skandal terbesar masa itu. Uang hasil penjualan senjata itu dipakai membiayai kelompok gerilya Contra menggempur Sandinista. Dari lanjutan kasus ini pula terbongkar kegiatan CIA dalam perdagangan narkotik, kokain, untuk mendanai kegiatannya.

Di Panama, CIA memborgol Presiden Noriega dan menerbangkannya ke negeri Paman Sam untuk diadili sehubungan kasus pelanggaran HAM dan perdagangan narkotika. Padahal sudah rahasia umum di Amerika Tengah bahwa Jenderal Noriega masuk dalam lingkaran CIA.

Sedang mengenai bisnis narkotika, sesungguhnya bukanlah aib bagi CIA. Sejak 50 tahun silam, setelah berhasil mendorong mundur pasukan Koumintang ke arah selatan, memasuki perbatasan Myanmar Utara, CIA mendorong penanaman candu besar-besaran, yang kemudian berkembang menjadi segi tiga emas. Operasi CIA yang menghamburkan banyak uang, sebagian besar dipasok dari bisnis haram ini.

***

PETUALANGAN AS kadang-kadang sulit dipahami akal sehat dan mirip wild west. CIA yang mirip negara dalam negara sangat berperan dalam politik luar negeri AS. Itu sebabnya perilaku politik AS selalu bermuka dua, seperti halnya intel.

Contohnya, netralitas yang kerap didengung-dengungkan, tetapi melalui pintu belakang justru meruntuhkan pemerintah yang dianggap netral. Bung Karno dan Pangeran Sihanouk adalah korban "netralitas" AS. Begitu pula Ali Bhutto, yang baru saja meninggalkan Kedubes AS untuk suatu acara, tiba-tiba ditangkap pasukan Jenderal Zia Ul'haq yang melakukan kudeta. Bhutto kemudian digantung.

Banyak cara yang dilakukan AS melalui CIA untuk menegakkan "netralitas" dan "demokrasi". Tetapi, pola baku adalah menuding kepala pemerintahan itu sebagai "rezim teror komunis" yang membahayakan stabilitas kawasan. Ada beberapa contoh menarik sebagai perbandingan.

Tahun 1951, misalnya, untuk pertama kalinya Guatemala memilih presiden secara demokratis sejak Spanyol hengkang tahun 1820. Presiden terpilih Jacobo Arbenz yang ingin memperbaiki standar hidup rakyatnya melalui land-reform, harus menelan pil pahit. United Fruit Company, perusahaan AS yang 10 persen lahannya akan terkena land-reform dan industrinya setengah dinasionalisasikan, ternyata punya hubungan dengan CIA.

Menlu John Foster Dulles segera mengeluarkan pernyataan, rakyat Guatemala saat ini hidup di bawah pemerintahan teror komunis. Presiden Eisenhower menyebut Presiden Arbenz sebagai "diktator komunis". Ibarat rangkaian yang sudah ditata, Dubes AS di Guatemala lantas mengatakan, "Kita tidak mungkin membiarkan Republik Soviet didirikan antara Terusan Panama-Texas".

AS kemudian membuat pakta pertahanan dengan Nikaragua, Honduras, dan Panama, serta menempatkan 30 pesawat terbang di sana. Tanggal 18 Juni 1953, pesawat terbang AS menyebarkan pamflet yang isinya tuntutan "pemberontak" agar Presiden Arbenz mundur. Bersamaan dengan itu radio gelap di kedubes AS menyiarkan tuntutan itu setiap hari, diikuti dengan berbagai berita dan analisa kebusukan Presiden Arbenz.

Tidak lama setelah itu CIA mendistribusikan 100.000 pamflet gelap di bawah judul Kronologi Komunisme di Guatemala, tiga film tentang "kebusukan" Presiden Arbenz, dan lebih 27.000 copy poster yang menertawakan Arbenz.

Pada April 1954, CIA mulai mempercepat iramanya. Sebuah pesawat terbang yang dimanipulasi dengan lambang Soviet, terbang rendah melintas Honduras, Nikaragua, dan Meksiko, sebelum masuk ke wilayah Guatemala. Kemudian pesawat AS mengebom wilayah Honduras yang berbatasan dengan Guatemala.

Radio gelap AS serta koran-koran di bawah jaringannya, menyiarkan keadaan gawat. Pesawat Soviet mengedrop senjata bagi pemerintah "diktator komunis". Kemudian melakukan pengeboman terhadap pemberontak yang menentang kediktatoran itu. Situasi ini, ulas radio tersebut, mengancam stabilitas kawasan Amerika Tengah.

Negara-negara tetangga Guatemala yang masuk pakta pertahanan AS mengajukan protes ke PBB, hingga akhirnya keluar resolusi mengutuk pemerintahan Arbenz. Dari sini mulai terbentuk opini dunia terhadap pemerintah yang sangat demokratis itu.

Sementara itu, CIA terus menyiarkan propaganda mengenai kemenangan pemberontak, di samping memproduksi foto palsu kuburan massal dengan menyebutnya sebagai korban kekejaman rezim komunis Arbenz.

Terakhir, CIA mengebom ibu kota, dan terus-menerus menyiarkan melalui radio bahwa pasukan pemberontak sudah hampir memasuki ibu kota dengan peralatan persenjataan berat dan dukungan Marinir AS. Padahal sesungguhnya pasukan pemberontak hanya menguasai beberapa desa, jauh di perbatasan.

Dalam situasi panik demikian, Kolonel Castilo Armas, yang menerima 60.000 dollar AS dari CIA, melancarkan kudeta. Sejak itu land-reform dibatalkan, serikat pekerja dibubarkan, dan kebebasan pers diberangus. Dua puluh lima tahun kemudian, sesuai UU kebebasan mendapatkan informasi, dokumen CIA setebal 1.400 halaman mengenai perannya di Guatemala, terbuka pada publik. Rakyat Guatemala terperanjat begitu mengetahui isinya.

Sementara itu tahun 1970, Salvador Allende yang terpilih juga dalam pemilu yang paling demokratis di Cile, menerima getirnya reformasi. Langkah pertama yang dilakukannya dengan mencabut hukuman mati, mengakui semua parpol, land-reform, dan terakhir nasionalisasi perusahaan tambang belerang AS, membuat gusar Gedung Putih. Melalui CIA, diproduksi pamflet, poster, dan dokumen palsu mengenai rencana jahat Allende untuk membangun komunisme.

Di bawah pengendalian Deputi Direktur Operasi CIA, William Colby, yang sebelumnya sukses menjatuhkan Presiden Soekarno, CIA mulai melancarkan perang propaganda untuk mendiskreditkan Allende. Kemudian, seperti biasa, muncul foto kuburan massal di bawah judul korban kekejian diktator komunis Allende.

Tahun 1973, di bawah nama sandi "Jakarta" terjadi pembunuhan seorang jenderal oleh pasukan yang sudah mendapat pelatihan dari CIA. Pembunuhan ini karena menolak tawaran melakukan kudeta. Tetapi, mesin-mesin propaganda CIA meniupkannya sebagai korban keganasan komunis diktator Allende. Jenderal Pinochet kemudian melakukan kudeta, mengeksekusi Allende dan ribuan warga.

***

PULUHAN pemimpin pemerintahan di berbagai negara tersungkur oleh CIA. Metodenya hampir sama, yaitu diawali perang propaganda untuk mengondisikan citra negatif. Kemudian menyusul infiltrasi dalam tubuh angkatan bersenjata melalui berbagai program bantuan, mengadu domba militer-sipil, provokasi melalui insiden berdarah, baru disusul kudeta.

Dalam beberapa kasus, jika memungkinkan, ditempuh jalan pintas. Seperti membunuh kepala negara atau pemerintahan bersangkutan. Tetapi, upaya ini kerap gagal, seperti pernah dua kali menimpa Presiden Soekarno dan 13 kali dialami Fidel Castro. Dalam aksi ini, yang paling digemari CIA untuk mengeksekusi adalah bom, granat, dan senapan mesin ringan.

Patrice Lumumba, Presiden Kongo yang terpilih secara demokratis tahun 1960, mungkin contoh nasionalis paling sial. CIA pernah mengirim pakar mikrobiologinya, Dr Joseph Scheider, untuk menyebarkan virus bakteri yang akan membinasakan Lumumba. Ribuan orang tewas akibat penyakit aneh, tetapi Lumumba selamat. Terakhir CIA kembali ke pola standar dengan mendorong Jenderal Mobotu melakukan kudeta dan mengeksekusi Lumumba.

***

MEMASUKI milenium ketiga, tidak bisa diramal apakah CIA masih menggandrungi pola lama tersebut. Jika ditarik pengalaman Indonesia dalam rentang waktu yang panjang, yakni sejak jatuhnya Bung Karno hingga lengsernya Soeharto, CIA tampaknya tidak ingin mengulangi metode yang sama di negara yang sama.

Dalam penggulingan Bung Karno, misalnya, Indonesia berubah menjadi kolam darah-berbagai pihak memperkirakan angka tewas berkisar 500.000-satu juta jiwa-namun untuk Soeharto, CIA agak hati-hati karena menyimpan rahasia keterlibatan AS dalam G30S. Ketika Soeharto lengser, tidak satu pun terjadi pembersihan yang menelan korban jiwa. CIA tampaknya hanya mematangkan situasi dengan bantuan uang.

Misalnya, saja antara tahun 1995-1997, sedikitnya 26 juta dollar AS bantuan CIA melalui lembaga penyelubungnya kepada LSM-LSM anti-Soeharto. Walaupun demikian, tidak ada pula salahnya mencurigai CIA ikut dalam peristiwa 13-15 Mei 1998 di Jakarta. Dalam peristiwa biadab itu, seluruh gelombang komunikasi radio aparat keamanan tidak bisa digunakan. Kemampuan teknologi demikian hanya dimiliki CIA dan Mossad, intelijen Israel. Peristiwa Mei adalah skenario melengserkan Soeharto agar menyerahkan kekuasaan kepada militer.

Dukungan AS mulai beralih ketika Soeharto makin kikir dalam membagi rezeki kontrak tambang dan berbagai proyek besar lainnya. Soeharto yang makin uzur, kembali ke bentuk alami, dengan mengutamakan bisnis putra-putrinya.

Selain itu, ketika AS melakukan embargo senjata, Soeharto atas saran BJ Habibie dan kawan-kawan, mulai mencoba mencari peralatan militer di luar AS, termasuk ke Moskwa. Suatu hal yang membuat AS berang. Puncaknya adalah ketika Myanmar, atas desakan Soeharto melalui PM Mahathir, diterima sebagai anggota ASEAN.

Padahal AS dan Masyarakat Eropa sejak lama melakukan embargo dan terus berusaha mengisolir Myanmar. Gedung Putih yang mengutus Menlu Albright melobi pemimpin ASEAN agar menolak Myanmar, tidak dipedulikan. Dengan begitu pula makin kuat tekad melengserkan Soeharto. Puncaknya ketika angin puting-beliung krisis ekonomi memporak-porandakan benteng pertahanan Soeharto menjelang pertengahan 1997.

Sekarang kita tinggal mencocokkannya di lapangan. Kalau hal ini juga tidak manjur, maka itu bisa dilihat dari siapa pejabat negara yang bermain dalam konflik internal dan kedekatan dengan salah satu korporasi multinasional AS serta pernah beberapa kali berkunjung ke negeri koboi itu. (mt)

Maruli Tobing
(Kompas, 9 Februari, 2001)

Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA

Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA

Senin, 24 November 2008 | 08:04 WIB

JAKARTA,SENIN-Adam Malik, wakil presiden kedua RI disebut-sebut sebagai agen CIA (Central Intelligence Agency/dinas rahasia AS). Pahlawan nasional ini bahkan disebut sebagai pejabat tertinggi yang pernah direkrut CIA di Indonesia.

Adam Malik yang dijuluki Si Kancil ini mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1978-1983. Salah satu pendiri LKBN Antara ini pernah menjadi diplomat kunci dalam kebijakan luar negeri RI awal Orde Baru dan dubes untuk Uni Soviet. Ia meninggal pada September 1984 atau setahun setelah tidak menjabat wakil presiden.

Keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA itu disebutkan wartawan New York Times, Tim Weiner, dalam bukunya Legacy of Ashes, History of the CIA (diterjemahkan menjadi Membongkar Kegagalan CIA).

Dalam buku itu, Weiner mengutip pernyataan pejabat tinggi CIA Clyde McAvoy dalam wawancara pada 2005 yang menjadi bahan buku itu. Disebutkan, McAvoy bertemu Adam Malik pada 1964, atau setahun sebelum prahara politik September 1965. ”Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” kata McAvoy dalam wawancara waktu itu.

McAvoy mengatakan, setelah berhasil merekrut Adam Malik, ia mendapat persetujuan untuk meningkatkan program rahasia buat mendorong persetujuan operasi rahasia di Indonesia, terutam terkait dengan persaingan di spektrum politik kanan dan kiri.

Weiner, menyebut setelah Adam Malik direkrut Clyde McAvoy menjadi agen CIA, ia berperan menggulingkan Soekarno, dan menumpas PKI. CIA pun membentuk trio yang kelak berkuasa pascatumbangnya Soekarno, yakni Adam Malik, Sultan Hamenglubuwono IX, dan Soeharto.

"Sang Duta Besar mengatakan dia bertemu dengan Adam Malik "di sebuah lokasi rahasia" dan mendapatkan "gambaran sangat jelas tentang apa yang dipikirkan Soeharto dan Adam Malik, serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan" buat membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka pimpin, yang disebut Kap_gestapu," tulis Tim Weiner (halaman 331).

Pada pertengahan Oktober 1965, Adam Malik mengirimkan seorang pembantunya ke kediaman perwira politik senior Kedubes AS, Bob Martens, yang pernah bertugas di Moskow, kota tempat Adam Malik pernah bertugas sebagai duta besar.

Martens menyerahkan kepada utusan Adam Malik itu sebuah daftar yang tidak bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah daftar yang telah dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar. "Dokumen itu sama sekali bukanlah daftar orang yang akan dibunuh," ujar Martens.

Klaim bahwa Adam Malik merupakan agen CIA sangat diragukan sejarawan Asvi Marwan Adam. Asvi beranggapan, selain bahwa klaim itu tidak didukung dokumen yang kuat dan saksi, Adam Malik juga telah meninggal. "Jadi ini hanya pernyataan sepihak pada seseorang yang sudah tidak mungkin memberikan konfirmasi atau jawaban," ujar Asvi, Minggu (23/11).

Asvi menduga, klaim McAvoy untuk itu demi mendongkrak popularitasnya saja. "Akan terdengar luar biasa kan kalau seorang petinggi negara lain pernah dia jadikan agen. Mungkin dia hanya cari nama saja,” kata Asvi.

Asvi juga menyorot bagian dalam buku itu yang menyebut bahwa CIA menggelontor dana sebesar 10.000 dolar AS pada rezim yang dikendalikannya untuk menumpas PKI. "Amerika Serikat berkepentingan dengan pemberantasan komunis, mereka bukan hanya menyumbang uang tapi juga senjata," ujarnya.

Atas terbitnya buku itu, kata Asvi, keluarga Adam Malik dan pemerintah harus bersikap, antara lain dengan mengeluarkan bantahan. Alasan Asvi, Adam Malik adalah tokoh yang harus dijaga nama baiknya. Apalagi saat ini akan dibangun bandara udara di Sumatera Utara bernama Adam Malik. Penarikan buku dari peredaran, kata Asvi juga bisa jadi alternatif untuk menghentikan tuduhan pada Adam Malik ini.

"Mungkin pemerintah melalui departemen sosial dan menteri sekretaris negara harus membantah, kalau perlu menanyakan kepada penulisnya apa bukti, dokumen atau saksi atas pernyataan yang dibuatnya," ujar Asvi.

Sepakat dengan Asvi, pengamat intelijen Wawan Purwanto mengatakan rekrutmen agen CIA tidak mudah dan dilakukan dengan sangat rahasia. Dokumen rekrutmen itu pasti ada.

"Paling tidak ada surat tugas atau surat keputusan yang jelas tentang kebaradaan agen tersebut," ujarnya.

Namun Wawan tidak sepakat dengan gagasan penarikan buku. "Kalau dilakukan akan memperlaris buku, sebab orang jadi bertanya-tanya apa isi buku itu," ujarnya. Menurutnya, yang bisa dilakukan keluarga dan pemerintah adalah klarifikasi. Misalnya dengan menerbitkan buku putih atau paling tidak konferensi pers untuk membantah tuduhan ini.

Gagasan penarikan buku juga dipandang sebelah mata oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) yang lebih suka menyerahkan masalah itu kepada keluarga Adam Malik. "Itu masalah pribadi. Belum bisa dikategorikan sebagai menggangu ideologi, politik, sosial, budaya dan pertahanan-keamanan," tegas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Jasman Panjaitan.

Lagi pula, menurut Jasman, buku Membongkar Kegagalan CIA tidak termasuk dalam barang cetakan yang mengganggu ketertiban umum yang selama ini dijadikan patokan Kejagung untuk membredel buku. Kendati demikian, apabila pihak keluarga Adam Malik merasa keberatan, mereka bisa mengadukan ke Kejagung.jbp/yls/ti

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/24/08043912/wartawan.as.sebut.adam.malik.agen.cia......

Merajut Kepingan Dokumen Kasus G30S oleh Asvi Warman Adam

Merajut Kepingan Dokumen Kasus G30S oleh Asvi Warman Adam
Asvi Warman Adam adalah Sejarawan LIPI

Sejarah, menurut E.H. Carr, adalah suatu dialektika antara masa sekarang dan masa lampau. Sejarah juga merupakan dialog yang tidak berkesudahan antara sejarawan dan sumber. Bila ditemukan arsip baru, sejarah dapat ditinjau ulang.

Jadi, tidak ada tulisan atau buku sejarah yang final. Dalam kasus Gerakan 30 September (G30S) pun sebetulnya tidak ada interpretasi akhir dan tunggal terhadap peristiwa tersebut. Bukan saja berhubungan dengan fakta, sejarah juga berkaitan dengan sudut pandang. Dengan data atau fakta yang sama, dapat dilakukan penafsiran baru bila suatu peristiwa dilihat dari perspektif yang lain atau pada masa yang berbeda.

Dokumen mengenai politik luar negeri AS tahun 1964-1968 mengenai Indonesia, Malaysia, Filipina, yang ditarik oleh pihak pemerintah Washington tapi sempat dipasang pada salah satu situs internet, juga mengemukakan hal-hal baru, meskipun itu hanya mendukung tesis yang sudah disampaikan sejak dulu. Naskah itu pada intinya mengungkapkan keterlibatan pihak AS (dalam hal ini CIA) dalam peristiwa yang terjadi tahun 1965-1996 di Indonesia. Sebagai konsekuensi dari Perang Dingin antara blok kapitalis dan blok komunis, AS berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan kelompok kiri. CIA membantu dengan berbagai cara dan pengucuran dana bagi segala usaha untuk menghancurkan PKI. Di dalam dokumen tersebut, terungkap bantuan yang diberikan pihak AS sebanyak Rp 50 juta kepada Komite Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu melalui perantaraan Adam Malik. Sebagaimana diketahui, KAP Gestapu itu dipimpin oleh Subchan Z.E. (alm.) dari NU dan Harry Tjan Silalahi. Ikut aktif pula di sana tokoh Muhammadiyah, Lukman Harun.

Yang menarik, juga disebutkan dalam dokumen itu tentang bantuan berupa peralatan telekomunikasi. Keterangan rinci tentang alat-alat telekomunikasi itu, sebanyak 13 baris kalimat, dihapus (not declassified) dalam teks tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bantuan itu betul-betul berupa alat telekomunikasi. Soalnya, pada sumber yang lain, seorang diplomat AS pernah memberikan keterangan bahwa bantuan itu berupa alat-alat semacam walkie-talkie. Jika demikian, mengapa harganya sampai US$ 3 juta? Sebetulnya permintaan dari AS adalah barang senilai US$ 13 juta, tetapi yang dipenuhi hanya sebanyak jumlah di atas. Masuk akal bila istilah itu dipergunakan untuk menyamarkan pengiriman senjata yang dipergunakan oleh TNI untuk mengamankan Pulau Jawa.

Sebagaimana diketahui kemudian, terjadilah pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh PKI pada tahun 1965-1966. Meskipun diakui pembunuhan itu sebagian merupakan resultan dari konflik horizontal yang sudah terjadi sebelum 1965 antara kelompok kiri dan kaum agama (Islam), peran militer cukup signifikan.

Soal daftar nama pengurus teras PKI di seluruh Indonesia yang diberikan oleh pihak AS kepada Angkatan Darat untuk dibasmi—melalui orang kepercayaan Adam Malik—adalah sesuatu yang sudah lama terungkap. Hanya, di sini hal itu dikuatkan lagi. Di dalam arsip ini juga dikemukakan (telegram dari Kedubes AS di Jakarta kepada Department of State, 4 November 1965): "In Central Java, army (RPKAD) is training moslem youth and supplying them with weapons and will keep them out in front against PKI. Army will try to avoid as much as it can safely do so direct confrontation with PKI."

Dokumen ini—sebagaimana kebanyakan arsip asing—juga mengandung beberapa kesalahan dalam pengetikan nama orang Indonesia. Bahkan, pada daftar nama tokoh yang tercantum dalam naskah ini, Sultan Hamengku Buwono IX disebut sebagai "Malaysian First Minister for the Economic and Financial Sector". Kemudian, ada berbagai bagian yang tidak dibuka (not declassified), tapi hal ini tidak membatalkan kesimpulan bahwa AS (CIA) ikut terlibat dalam peristiwa tahun 1965 itu.

Dokumen ini menguatkan hipotesis lama tentang keterlibatan unsur asing dalam percobaan kudeta 1965 dan rangkaian kejadian sesudah itu. Menurut versi ini, dalang utama G30S adalah CIA, yang ingin menjatuhkan Sukarno dan kekuatan komunis (teori domino). CIA bekerja sama dengan sebuah klik AD untuk memprovokasi PKI. Apalagi, jika kita baca buku George M.T. Kahin tentang keterlibatan CIA dalam kasus PRRI dan Permesta beberapa waktu sebelumnya, bukan mustahil CIA juga memegang peranan dalam percobaan kudeta tahun 1965.

Peristiwa 1965 itu terjadi pada masa Perang Dingin, tatkala AS dan sekutunya berseteru dengan negara-negara komunis. AS, yang ketika itu menghadapi perang Vietnam, tidak ingin Indonesia jatuh ke tangan komunis. Menurut David T. Johnson (1976), terdapat enam skenario yang dapat dijalankan Amerika Serikat untuk menghadapi situasi yang memanas di Indonesia: (1) membiarkan saja, (2) membujuk Sukarno mengubah kebijakan, (3) menyingkirkan Sukarno, (4) mendorong Angkatan Darat mengambil alih kekuasaan, (5) merusak kekuatan PKI, (6) merekayasa kehancuran PKI dan sekaligus kejatuhan Sukarno. Ternyata skenario terakhir yang dianggap paling menguntungkan dan tepat untuk dilaksanakan.

Indikasi keterlibatan pemerintah/dinas rahasia Inggris dan Australia juga ada. Namun, hal itu lebih tampak setelah peristiwa G30S, ketika pihak Inggris membantu propaganda untuk menghancurkan PKI. Menurut Mike Head (1999), peran Australia sama aktifnya dengan peran pemerintah AS, meskipun skalanya lebih kecil. Dalam telegram yang dikirim dari dan ke Kedutaan Australia di Jakarta, tecermin sikap bahwa Soeharto "harus bersikap lebih kejam untuk menghancurkan semua dukungan bagi PKI".

Tulisan Coen Hotzappel (dalam Journal of Contemporary Asia, vol. 2, 1979) dapat dipandang dalam konteks skenario nomor 6 yang dikemukakan David T. Johnson tersebut. Operasi G30S dilakukan oleh tiga pasukan, yaitu Pasopati, Pringgodani (dalam versi sejarah resmi disebut Gatotkaca), dan Bimasakti. Penculikan para jenderal dilakukan oleh pasukan Pasopati. Setelah itu, mereka diserahkan kepada pasukan Pringgodani, yang mengoordinasi kegiatan di Lubangbuaya. Sedangkan pasukan Bimasakti bertugas menguasai RRI, telekomunikasi, dan teritorial.

Dengan bersumberkan hasil pengadilan Untung dan Nyono, Coen Hotzappel mencurigai kegiatan pasukan Pringgodani, yang melaksanakan kegiatan kudeta yang memang dirancang untuk gagal. Pembunuhan beberapa jenderal yang belum semuanya tewas di Lubang dilakukan oleh pasukan Pringgodani. Gugurnya para perwira tinggi AD itu menyebabkan Presiden Sukarno tidak mau mendukung gerakan tersebut dan memerintahkan Brigjen Suparjo agar menghentikan operasinya. Coen menuding Mayor Udara Sujono dan Sjam sebagai tokoh sentral yang mengendalikan pasukan Pringgodani tersebut. Plot yang tidak matang itu menyebabkan G30S dapat ditumpas dengan cepat dan kemudian PKI, yang dianggap sebagai dalang kudeta tersebut, dihancurkan. Sedangkan Sukarno, yang tidak mau mengutuk PKI, dijatuhkan.

Dari berbagai versi di atas, manakah yang lebih tepat? Menurut saya, cukup masuk akal bila dikatakan bahwa tidak ada pelaku tunggal dalam peristiwa tersebut. Keterlibatan Syam Kamaruzaman sudah terang, demikian pula dengan sekelompok militer. Dalam konteks Perang Dingin, keterlibatan unsur asing seperti AS (dalam hal ini CIA) sangat mungkin. Yang terang, gerakan ini tidak diketahui oleh mayoritas anggota PKI di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, peristiwa G30S bukanlah pemberontakan oleh sebuah partai.

Sukarno dan Soeharto sama-sama mengetahui gerakan tersebut, termasuk isu adanya Dewan Jenderal. Sukarno adalah orang yang sangat dicelakakan oleh peristiwa tersebut (karena tidak mau mengutuk PKI, ia dikesankan terlibat), sedangkan Soeharto adalah orang yang sangat diuntungkan oleh gerakan tersebut. Para saingannya sesama jenderal tersingkir (ngluruk tanpa bala), sementara ia melenggang ke kursi kepresidenan.

Dari berbagai buku dan dokumen yang sudah dapat dibaca di dalam dan di luar negeri, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, keterlibatan PKI—sebagai sebuah partai, dalam memimpin G30S—kian diragukan, kecuali peran segelintir elite pengurusnya. Kedua, tuduhan semakin menjurus pada persekongkolan suatu kelompok kecil di dalam Angkatan Darat plus Angkatan Udara yang mencoba menangkap dan menghadapkan beberapa jenderal kepada Presiden Sukarno. Ketiga, tindakan ini untuk mendahului isu kudeta oleh "Dewan Jenderal", yang dipercaya oleh kelompok tersebut akan berlangsung menjelang 5 Oktober 1965. Paul F. Gardner memakai istilah brain trust untuk menyebut kelompok Dewan Jenderal. Keempat, kegagalan gerakan yang dilakukan secara serampangan itu—apakah disengaja atau tidak—memberi kesempatan kepada tentara untuk menghancurkan musuh besar mereka, yaitu PKI, serta menumbuhkan konsolidasi di kalangan ABRI, yang waktu itu terpecah, dan sekaligus menciptakan aliansi dengan kelompok lain di kalangan masyarakat seperti mahasiswa dan umat Islam dalam menghadapi "musuh bersama" yang diproyeksikan sebagai "anti-Tuhan". Kelima, pembantaian massal yang terjadi setelah G30S adalah kelanjutan dari strategi di atas yang didukung oleh ketegangan sosial dan kesulitan ekonomi sebelum G30S.

Keenam, plot itu secara langsung atau tidak langsung sejalan dengan strategi penghancuran komunis oleh pihak Barat. Ketujuh, meskipun peristiwa itu berlatar belakang global (situasi Perang Dingin), secara paradoks sumber permasalahannya dapat pula dicari tidak hanya pada level nasional, tetapi juga pada tingkat lokal. Dorongan untuk meneliti aspek lokal ini makin kuat, misalnya sejauh mana keterlibatan Kodam Diponegoro, atau yang lebih kecil lagi grup pasukan Pasopati. Kedelapan, Sukarno dan Soeharto sama-sama mengetahui peristiwa itu relatif lebih awal, tetapi Sukarno adalah orang yang paling dirugikan sementara Soeharto paling diuntungkan oleh gerakan tersebut. Sembilan, selama ini Syam Kamaruzaman dicurigai sebagai "double agent", agen PKI sekaligus intel AD. Seandainya bisa dibuktikan bahwa Syam itu "triple agent"—maksudnya, selain fungsi di atas ia juga spion atau bisa dipengaruhi oleh CIA—ia telah menyambungkan berbagai faktor kunci menjadi satu rangkaian.

Majalah Tempo No. 31/XXX 01 Oktober 2001

Sumber:http://id.wikisource.org/wiki/Merajut_Kepingan_Dokumen_Kasus_G30S

Indonesia 1965: di manakah CIA ...

Indonesia 1965: di manakah CIA ...

Sejarawan h.w. brands mengupas seberapa jauh peran as dalam peristiwa g30s/pki.menurutnya as tidak ikut campur,sedang cia tidak tahu banyak. wartawati kathy kadane menyebut cia memberi daftar tokoh-tokoh pki.
ORANG Jawa mungkin akan bilang, orang Amerika itu geden rumongso alias g.r. Mereka cenderung merasa bahwa pergolakan dunia adalah akibat Amerika Serikat. Dalam kasus Indonesia, masih belum pudar dugaan bahwa AS ikut berpengaruh atas perubahan besar di sini di tahun 1965 dan 1966. Apalagi Kathy Kadane, wartawati kantor berita States News Services, Mei lalu, menyatakan bahwa CIA -- badan intelijen AS -- memberikan daftar 5.000 nama tokoh PKI pada TNI AD pada 1965, yang kemudian "dihabisi" setelah ambruknya G30S PKI. Seorang penulis di Washington Post kemudian bertanya lebih jauh: seberapa jauh sebenarnya keterlibatan AS -- khususnya CIA dalam usaha penggulingan Presiden Soekarno? Bukan rahasia lagi, CIA memang di tahun 1958 mendukung pemberontakan PRRI/Permesta yang antikomunis. Jadi, siapa tahu, badan rahasia yang ikut menggulingkan pemerintahan Presiden Allende yang komunis di Cili itu juga ada main di Jakarta. Pekan lalu, sebuah tulisan di International Herald Tribune mengakui bahwa sebetulnya sudah ada seorang sejarawan berwibawa yang telah menjawab itu. Pada edisinya Desember 1989 lalu, majalah Journalof American History memuat tulisan H.W. Brands, asisten profesor di Universitas A & M Texas. Sebagian besar bahan Brands berasal dari Perpustakaan Lyndon Johnson, yang ternyata mengoleksi juga semua korespondensi Kedubes AS dan laporan CIA selama masa pemerintahannya (1963-1968), yang kini boleh diketahui umum. Di bawah judul The Limits of Manipulation: How the United States Didn't Topple Sukarno, Brands menyatakan keyakinannya bahwa Washington tak ikut campur dalam terjadinya G30S-PKI yang mengakibatkan kejatuhan Presiden Soekarno. Menurut Brands,tatkala G30S-PKI terjadi, CIA tak tahu jelas apa yang dilakukan Jenderal Soeharto. Jika CIA benar telah berkomplot dengan TNI AD, pasti Washington tahu banyak tentang Soeharto. Pada 1960-an, Indonesia dipandang sangat penting danstrategis oleh AS. Pemerintahan Einsenhower, tulis Brands, umumnya menilai Soekarno bukan komunis dan menganggap kebijaksanaan yang dijalankannya sebagai seorang netralis yang bersemangat independen. Namun, para pejabat AS khawatir bahwa ambisi Soekarno bisa membuat dia salah perhitungan dan tidak bisa mengontrol lagi PKI. Konfrontasi dengan Malaysia yang dilancarkan Soekarno pada 1963 membuat waswas Presiden Lyndon Johnson. Membiarkan tindakan Soekarno dapat mengakibatkan perang terbuka yang bisa melibatkan AS, sedangkan menentangnya mungkin membahayakan investasi AS di Indonesia, serta bisa mempererat hubungan Soekarno dengan PKI. Johnson, atas nasihat Menlu Dean Rusk, menolak tekanan Kongres untuk mengambil sikap tegas pada Soekarno karena khawatir kemungkinan adanya pembalasan. Kebijaksanaan AS pada Indonesia kemudian berubah, yang pada dasarnya didasarkan pada dua aliran. Yang pertama, kelompok akomodasionis yang ditokohi oleh Dubes AS di Jakarta, Howard Jones. Jones percaya, pendekatan bersahabat terhadap Soekarno bisa mencegah perang Indonesia -- Malaysia, dan bisa melunakkan sikap anti-AS-nya. Kelompok kedua, kaum konfrontasionis yang menganut garis keras terhadap Soekarno, meliputi antara lain Menlu Dean Rusk dan asistennya, George Ball. Mereka khawatir, sikap lunak AS terhadap Soekarno bisa merusak kredibilitas AS. Makin meningkatnya Perang Vietnam juga membuat toleransi mereka terhadap gerakan kiri di negara-negara Asia lainnya makin tipis. Menurut Brands, para pejabat AS sulit mengerti perilaku Soekarno. Mereka mengerti bahwa Soekarno, sebagai lazimnya netralis, berusaha mengadu domba negara-negara superkuat buat kepentingannya sendiri. Tapi mereka, misalnya, tak bisa menduga ada apa di balik kampanye "Ganyang Malaysia" yang dilancarkan Soekarno. Karena benar-benar khawatir terhadap imperialisme Barat, untuk mengalihkan perhatian rakyat Indonesia dari kesulitan ekonomi, atau karena "kenakalan" Soekarno saja? Para pejabat AS menduga, meski selalu mendengungkan nada kekiri-kirian, Soekarno sebenarnya bukan seorang ideologue, tapi seorang improviser. CIA sendiri, yang melukiskan Soekarno sebagai politisi yang intuitif dan pemimpin massa yang sangat lihai, menilai kecondongan Marxisnya lebih bersifat emosional. Mengutip dokumen resmi, Brands menulis bahwa para analis Deplu AS menilai bahwa Soekarno menjalankan suatu kebijaksanaan yang "tidak direncanakan secara rinci dan matang, tapi lebih oportunistis dan berdasarkan situasi dan kondisi". Gaya Soekarno ini membuat dia bisa bermain di antara dua kekuatan besar yang ada di Indonesia saat itu: Angkatan Darat dan PKI. Sebuah laporan CIA pada 1964 menggambarkan bahwa Soekarno saat itu memiliki kekuasaan terbesar yang pernah dipunyainya selama 18 tahun menjabat presiden. Pada awal 1964, para penganut garis keras di Deplu AS mendukung usaha secara diam-diam untuk membuat TNI AD bertindak pada PKI. Mereka yakin, cepat atau lambat, TNI AD dan PKI pasti bentrok. Dan pemerintahan Johnson ingin, bila hal itu terjadi, para perwira TNI AD agar tahu bahwa mereka punya teman di Washington. Usaha AS untuk melunakkan sikap Soekarno kepada Malaysia tidak berhasil. Pada Maret 1964, Menlu Rusk menulis kepada Kedubes AS di Jakarta agar "berusaha membuat ABRI menekan Soekarno agar menghentikan sengketanya dengan Malaysia". Rusk juga menginstruksikan agar Dubes Jones dan atase militer AS menemui KSAD Jenderal Nasution dan pimpinan AD lainnya. Tiga hari kemudian, 6 Maret 1964, Jones menemui Nasution. Namun, Jones gagal memancing Nasution mengeluarkan pendapatnya tentang kemungkinan pengambilalihan kekuasaan oleh AD. Dua pekan kemudian, Jones mengunjungi Nasution lagi. Nasution mengatakan bahwa ABRI "tetap anti-PKI dan pro-AS". Jones, dalam laporannya, mengutip ucapan Nasution yang menduga PKI tidak akan berusaha mengambil alih kekuasaan, namun, bila hal itu terjadi, ABRI akan siap. Soekarno makin memusingkan AS tatkala melancarkan ucapannya yang terkenal go to hell with your aid, yang membuat para anggota Kongres AS gusar. Namun, para analis CIA kemudian menilai sikap Soekarno "membingungkan", setelah para informan CIA di dekat Soekarno melaporkan perubahan perilakunya, termasuk "kebutuhannya akan dana", yang konon disebabkan istri keempatnya. Menurut informan ini, beberapa teman Soekarno "merencanakan untuk membunuh" sang istri ini. Pada Agustus 1964 CIA menilai bahwa Soekarno makin membiarkan PKI meluaskan pengaruh, dan menganggap "Soekarno akan segera masuk perangkap PKI". Namun, Dubes Jones menganggap penilaian CIA itu terlalu kelabu, dan mengingatkan bahwa Soekarno pun harus menghadapi bermacam tekanan yang memaksanya memperlihatkan sikap anti-Amerika. Awal 15-65, Soekarno dilaporkan makin percaya diri. Kedubes AS, dalam laporannya ke Washington, mengutip sebuah sumber yang mengulangi ucapan Soekarno bahwa dia bisa mengendalikan PKI. "Suatu hari, saya akan mengambil alih PKI, tapi tidak sekarang," begitu konon kata Soekarno. Soekarno juga mengatakan, keterlibatan AS di Vietnam akan mengakibatkan perang antara AS dan RRC. Jika itu terjadi, AS harus membayar mahal untuk menjaga agar Indonesia bersikap netral. Atas usul Asisten Menlu AS George Ball, pada awal 1965 Johnson mengirimkan Ellsworh Bunker -- kenalan dekat Soekarno -- ke Jakarta, untuk memperbaiki hubungan RI-AS, karena makin gawatnya Vietnam membuat AS harus bisa mengendalikan Indonesia. Misi Bunker gagal. Namun, AS kemudian menuruti saran Bunker: Mengurangi jumlah personel Kedubes AS di Jakarta, dari beberapa ratus menjadi tinggal beberapa lusin. Tujuannya: Agar Soekarno waswas dan menganggap hal itu sebagai langkah awal pemutusan hubungan diplomatik oleh AS. Selain itu, bila nantinya TNI AD dan PKI bentrok, kehadiran personel AS yang sedikit itu bisa membuat "para jenderal AD tidak bisa didakwa sebagai pembela nekolim". Pada awal September, Dubes AS yang baru, Marshall Green, melaporkan bahwa sikap Soekarno saat itu "baik". Saat itu, kesehatan Soekarno, yang memburuk karena penyakit ginjalnya, membuat Jakarta penuh dengan desas-desus akan kemungkinan terjadinya kup. Menurut Brands, pembunuhan terhadap sejumlah jenderal AD pada 1 Oktober 1965 mengagetkan Kedubes AS. Selama beberapa jam di pagi hari itu, mereka menduga bahwa Soekarno meninggal atau tak mampu bertugas lagi. Kemudian, sedikit demi sedikit Kedubes AS mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi: Sekelompok perwira muda, di bawah Letnan Kolonel Untung, mencoba menghabisi pimpinan AD dan menewaskan enam jenderal dan melukai Nasution. Tatkala jelas bahwa Untung gagal, dan TNI AD di bawah Soeharto memukul balik, menurut Brands, para pejabat AS masih bingung siapa sebenarnya Soeharto. Pada 1 Oktober itu Green melaporkan ke Washington, ia belum tahu jelas apa peran PKI dalam penyerangan kepada para jenderal itu. Menurut Brands, CIA juga tak tahu banyak. Pada 1 Oktober pagi, mereka mengira Soekarno bersekutu dengan para penggerak kup, meski tidak punya bukti untuk itu. Para analis CIA kemudian menduga, "penggerak utama" kup itu mungkin Menlu Subandrio dan orang-orang komunis lain dekat Soekarno. Pihak Amerika kemudian tahu situasi Indonesia berubah drastis, tatkala laporan-laporan dari daerah muncul yang mengungkapkan bahwa pembersihan terhadap PKI bermula, para pejabat AS di Jakarta mula-mula khawatir bahwa TNI AD akan gagal memanfaatkan peluang yang ada. Pada 4 Oktober, suatu kelompok kerja di Gedung Putih melaporkan kepada Presiden Johnson bahwa TNI AD tampaknya belum memutuskan apakah mereka akan terus memukul PKI sampai menang mutlak. Maka, Pemerintah AS pun memikirkan, apa yang bisa diperbuat untuk memberi semangat kepada para perwira TNI AD. Green menyarankan agar, untuk sementara, AS tidak terlibat secara terbuka, tapi ia juga mengusulkan upaya terselubung "untuk menyebarkan cerita tentang dosa, pengkhianatan, dan kekejaman PKI". Pemerintah AS segan melaksanakan usul Green karena khawatir hal itu akan membuka peluang untuk kembalinya komunis. Ball melaporkan, "Saat ini TNI AD tak memerlukan bantuan material." Ball kemudian menginstruksikan Kedubes AS di Jakarta agar "sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan AD agar iktikad baik untuk menawarkan bantuan atau mendorong semangat mereka tidak dimanfaatkan oleh Soekarno dan Subandrio." Tatkala kemudian tampak bahwa Soekarno masih mendapat dukungan dari sebagian perwira ABRI, Pemerintah AS makin tidak ingin menimbulkan kesan bahwa mereka mendukung upaya melawan Soekarno. Para perwira Indonesia sendiri, tulis Brands, semula juga berhati-hati menerima bantuan AS. Namun, AS kemudian memberikan bantuan berupa walkie-talkie. Bantuan itu, Brands menulis, tidak mengakibatkan pembersihan terhadap PKI, paling banter cuma mempercepatnya. Apa pun yang dilakukan AS pada tahap ini, Pemerintah AS menganggap secara keseluruhan perkembangan yang terjadi menggembirakan. Pada pertengahan Desember, Ball melaporkan bahwa gerakan ABRI membasmi PKI "berjalan cukup cepat dan lancar". Sekitar saat yang sama, Green melaporkan dari Jakarta, "Pembasmian terhadap komunis berjalan terus." Pada Januari 1966, CIA menyatakan, "Era dominasi Soekarno sudah berakhir.... Dalam tiga bulan terakhir, prestisenya anjlok. Ia tidak lagi bapak dan pusat politik negara, dan menjadi orang tua yang pemarah." Tentang PKI, CIA melaporkan, "Angkatan Darat telah benar-benar menghancurkan PKI." Meski begitu, tulis Brands, Pemerintah AS masih enggan mendukung Jenderal Soeharto secara terbuka. Berdasar pengalaman, di masa-masa lalu Soekarno tahan banting, dan para pemimpin Amerika waswas dia bisa come back. Sementara itu, mereka juga belum yakin akan rencana Soeharto yang lain, selain membasmi komunis. Jika dia kemudian ternyata seorang nasionalis independen seperti Soekarno, AS mungkin hanya akan memperoleh sedikit manfaat dari peralihan kekuasaan itu. Pada Februari 1966, Robert Komer, seorang staf senior di Badan Keamanan Nasional, menggambarkan situasi Indonesia saat itu dalam memonya kepada Presiden Johnson, "Selama 4-5 bulan terakhir, sekitar 100.000 komunis tewas. Namun, apa yang bakal terjadi di negara dengan 100 juta penduduk ini masih belum jelas." Setelah kemungkinan bangkitnya kembali Soekarno makin tipis, sikap Pemerintah AS mulai berubah. Pada Maret 1966, mereka meluluskan sebagian permintaan bantuan Indonesia dan menyetujui mengirimkan 50.000 ton beras ke Indonesia. Brands kemudian membahas, seberapa jauh sebenarnya peran AS dalam perubahan pemerintahan di Indonesia. Menteri Pertahanan AS waktu itu, Robert McNamara, menekankan pentingnya peranan bantuan militer AS. Bantuan Amerika, tulis McNamara dalam suratnya kepada Presiden Johnson, "Telah berperan penting dalam menentukan sikap Angkatan Darat yang pro-AS dan antikomunis," dan "mendorong mereka untuk bergerak melawan PKI tatkala kesempatannya muncul." Menurut Brands, McNamara terlalu berlebihan menilai. Katanya, CIA juga menganggap begitu. Pada pertengahan 1966, penasihat Presiden pada Badan Keamanan Nasional, Walt W. Rostow, memerintahkan badan intelijen ini mengkaji pengaruh kebijaksanaan AS pada perkembangan di Indonesia. Rostow terutama berminat mengetahui dampak garis keras Pemerintah AS di Vietnam pada munculnya pemerintah baru di Indonesia. Kata Brands, CIA tidak menemukan hubungan antara keduanya. Direktur CIA Richard Helms melaporkan bahwa badan yang dipimpinnya "tidak berhasil menemukan bukti bahwa sikap tegas Amerika di Vietnam punya pengaruh pada perkembangan yang terjadi di Indonesia .... Apa yang terjadi di Indonesia bermula dari sana juga". Helms menyimpulkan, munculnya Angkatan Darat di pucuk kekuasaan "semata-mata merupakan perkembangan dari situasi politik setempat yang kompleks dan berlangsung lama". Meskipun ia sendiri mengakui, belum semua dokumen CIA dan Pemerintah AS pada masa itu telah dideklasifikasi, Brands menyimpulkan: AS tidak menggulingkan Soekarno. Susanto Pudjomartono

Tempo Majalah berita Mingguan
Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1990/08/04/NAS/mbm.19900804.NAS19146.id.html

Peer Holm Jorgensen

Peer Holm Jorgensen
Jakarta 1965 dan CIA


KARENA tergoda oleh semangat petualangannya untuk melihat banyak negeri, manusia, dan kebudayaannya, seorang remaja belasan tahun di Kopenhagen Denmark, nekat meninggalkan sekolahnya. Ketimbang meneruskan sekolahnya, ia memilih menjadi seorang asisten koki di satu kapal dagang, yang dengan itu ia bisa pergi berlayar ke berbagai tempat di seluruh dunia seperti yang diimpikannya.

September 1965, pengembaraan sampailah anak muda itu di Tanjung Priok, Jakarta. Indonesia berada dalam situasi politik yang genting. Penculikan para jenderal dengan PKI yang dituding sebagai pelakunya.

Kasper, anak muda itu, segera tahu bahwa ia berada di tempat yang salah. "Kesalahannya" bertambah lagi ketika di tengah situasi yang gawat semacam itu, menjalin cinta dengan gadis Indonesia blasteran Belanda-Padang. Lengkaplah petualangan Kasper, cinta yang rumit di tengah situasi negeri yang mendebarkan.

Perjalanan dan petualangan Kasper di Indonesia inilah yang kemudian ditulis Peer Holm Jorgensen menjadi novel berjudul The Forgotten Massacre. Meski banyak mengungkap data temuan sejarah, Peer cepat menegaskan bahwa ia bukanlah sejarawan. "Saya juga bukan politikus," ujar Peer Holm Jorgensen dalam diskusi di Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Senin (5/10).

Sebagai novel, The Forgotten Massacre, terbilang unik. Banyak kalangan menyebut novel ini sebagai autobiografi-fiksi. Tokoh Kasper dalam novel itu tak lain adalah representasi dari Peer, yang di sana-sini dibaurkan dengan unsur-unsur fiksi terutama pada bagian keterlibatan orang-orang CIA di tengah situasi chaos ketika itu. Namun, fiksi yang dibangun oleh Peer bukanlah melulu imajinasinya sebagai pengarang, tetapi mendasar pada riset yang suntuk selama bertahun-tahun.

Berikut petikan wawancara dengan pengarang yang juga bergerak di bidang penerbitan, yang getol menerbitkan buku perihal sejarah dan masa depan umat manusia ini.

Sebelum Anda datang ke Indonesia pertama kali pada 1965, kapan Anda pertama mengenal Indonesia?

Sebelum 1965, tidak banyak yang saya ketahui tentang Indonesia. Saya hanya membacanya di surat kabar di Denmark, misalnya, saya pernah membaca artikel tentang konfrontasi pada periode pendudukan Belanda di Bali. Saya sangat tertarik dengan episode itu, jadi ada pertempuran di Bali pada zaman kolonial Belanda. Lalu ada juga koran yang bercerita tentang Sumatra dan juga ada koran Eropa yang berkantor di Indonesia dan memberitakan tentang Indonesia. Selain itu, saya mendapatkan cerita tentang Indonesia dari guru sejarah yang bercerita tentang Indonesia dan Asia pada umumnya. Guru saya juga bercerita tentang Konferensi Asia Afrika (KAA). Itu sangat menarik bagi saya dan teman-teman saya sehingga kami sering kali bercanda dengan mengganti nama masing-masing dengan nama para pemimpin negara yang berkumpul di Bandung tahun 1958 itu, seperti misalnya, ada yang dipanggil Soekarno, Nehru, dan lain-lain.

Apa pentingnya novel ini untuk publik, terutama buat kami?

Saya membuat novel itu bukan khusus untuk orang Indonesia, tetapi untuk semua orang, khususnya sesama orang kulit putih. Saya ingin mengingatkan mereka pada konflik di seluruh dunia, seperti akhir-akhir ini di Irak. Saya mengingatkan kepada orang Eropa untuk tidak melakukannya lagi di masa modern ini. Memang benar, bahwa konflik-konflik fisik seperti rasisme sekarang sudah tidak lagi terjadi, tetapi konflik-konflik itu berubah menjadi penguasaan ekonomi. Jadi, Eropa masih membuat dominasi untuk kekuatan ekonomi. Mereka membatasi kekuatan untuk terus menjaga agar sejumlah negara tetap berada dalam kemiskinan, power to keep them poor. Wall Street mengendalikan kemakmuran negara agar yang miskin dibiarkan.

Saya ingin mengingatkan kepada orang-orang Eropa tentang persamaan derajat. Oleh karena itu, dalam novel ini saya melukiskan pergaulan manusia antarbangsa, termasuk dengan orang-orang lokal (Indonesia), bagaimana orang Prancis, Jerman, dan orang Indonesia-Cina bergaul. Saya ingin bercerita juga tentang persamaan hak, termasuk di bidang ekonomi. Di Denmark ada suatu kebijakan untuk menjamin kestabilan harga kepada petani, jadi petani tidak overproduksi sehingga harga barang menjadi lebih murah. Ada juga hal lain, seperti jangan sampai produk-produk lokal harganya lebih mahal dibandingkan dengan produk orang luar. Di luar itu, orang Eropa tetap memiliki kebiasaan buruk, selalu merasa superior dan berhak untuk mengatur bangsa-bangsa lain.

**

ADALAH William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Tenggara 1962-1967, suatu hari pada 1990 melontarkan jawaban menarik atas pertanyaan seputar benar tidaknya CIA terlibat di Jakarta 1965. Kata dia, "Mungkin kami terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa..."

Pernyataan Colby menjadi penting bagi Peer untuk lebih menyuntuki peristiwa 1965 di Jakarta dan apa serta bagaimana sesungguhnya keterlibatan CIA di dalamnya. Dalam banyak data sejarah, keterlibatan AS di Indonesia bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Sejak pemberontakan PRRI/Permesta 1950-an, keterlibatan AS dan CIA di Indonesia tampak dengan jelas. Hal ini bisa dipahami karena ketidaksukaan AS pada pemerintahan Soekarno yang lebih dekat dengan ideologi sosialis.

Ada jeda waktu yang cukup lama dari tahun 1965 hingga akhirnya novel ini terbit, mengapa selama itu dan bagaimana Anda mendapatkan akses ke CIA?

Selama perjalanan menjadi pelaut sampai tidak berlayar lagi pada 1969, saya tidak mengikuti semua peristiwa itu karena keterbatasan sumber informasi. Lalu setelah kembali pada aktivitas saya dan mengunjungi beberapa negara, tidak sebagai pelaut, pada 1993 saya memutuskan untuk menuliskan tentang itu semua. Dari situ saya memulai banyak riset. Saya menemukan sejumlah artikel menarik tentang Indonesia yang diterbitkan di beberapa surat kabar Amerika. Akan tetapi, dari sejumlah artikel banyak yang tiba-tiba dihentikan penulisannya dan saya menyangka pasti ada sesuatu karena pada artikelnya sudah menyebutkan CIA. Dalam proses pengumpulan data, saya selalu berpegang kepada pedoman "jika kamu tahu apa yang kamu cari, kamu pasti akan mendapatkan banyak hal". Dengan keyakinan itu, saya check and recheck dari berbagai sumber, membaca buku, siapa penulisnya, juga buku-buku lainnya.

Dari hasil riset Anda mengenai CIA dan lain-lain di Indonesia, siapa "think tank" CIA di Indonesia pada saat itu?

Mengenai hasil riset, saya berkesimpulan orang Indonesia bukan master mind dari semua (yang memplot) yang terjadi pada 1965 itu. Saya sangat mempercayai, CIA berada di balik semua itu. Orang Indonesia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena semua sangat kacau dan tidak tahu siapa yang memberikan perintah. Yang menarik, ketika saya di Surabaya pada 1965, ketika sedang duduk-duduk di bar, tentara datang karena mencurigai ada kapal Jerman yang menyembunyikan anggota PKI. Lalu mereka yang berada di bar itu ditembaki, ada yang ditangkap, bekas cedera saya masih ada. Empat puluh detik berlalu sangat cepat, ada tembak-tembakan, saya diringkus lalu dibawa ke jip, untuk dibawa kembali ke kapal. Ketika sampai di kapal, di belakang saya masih terdengar suara tembakan. (Ahda Imran)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=112821

Peer Holm Jorgensen, Pengarang The Forgotten Massacre

“First we had TVOne canceled the interview because of the earthquake,” ujar Peer mengenang kejadian yang dialaminya selama di Jakarta dan kemudian di Bandung, “and now this radio, because of the lightning.” Acara pertama Peer, pengarang The Forgotten Massacre, di Indonesia yang sedianya tampil TVOne batal gara-gara liputan gempa di Padang. Kemudian, ketika ingin diwawancarai oleh Radio KLCBS di Bandung, acara tersebut pun batal gara-gara sebagian peralatan radio terkena sambaran petir.

Dari Jakarta dan Bandung, Peer rencananya mengisi acara di Toko Buku Togamas Petra, yang terletak di Jl. Pucang Anom Timur No. 5, Surabaya. Lagi-lagi, acara Peer ini gagal karena ada demonstrasi yang melarang Peer untuk tampil di toko buku tersebut. The Forgotten Massacre, sebuah novel, memang mengajak para pembacanya untuk melihat Tragedi 1965 melalui kacamata Eropa. Peer besar di Kopenhagen. Pada usia 16 tahun, dia meninggalkan sekolah dan berkeliling dunia dengan kapal dagang. Dalam petualangannya itulah dia sempat mampir ke Indonesia saat Tragedi 1965 berlangsung dan Peer mengisahkannya.

Setelah mengalami kegagalan untuk yang ketiga kalinya, Peer pun terbang ke Bali. Dia memiliki kesempatan untuk meluncurkan novelnya itu di salah satu acara yang diselenggrakan oleh panitia Ubud Writers Festival. Dalam acara peluncuran bukunya itu, Peer tampil di Uma Café, Ubud, pada Kamis, 8 Oktober 2009, pukul 16.00 - 17.00 Wita. Lagi-lagi, Peer seperti mengalami kegagalan karena audiens yang menghadiri acara Peer hampir semua orang asing. Padahal buku yang diluncurkan adalah buku terjemahan dalam edisi bahasa Indonesia.


Pada hari berikutnya, Peer menghadiri sebuah acara yang kurang-lebih bertajuk tentang bagaimana menulis buku dengan latar belakang sejarah. Acara ini masih menjadi rangkaian acara di Ubud Writers Festival. Salah satu pembicara dalam acara tersebut kemudian menyebut-nyebut nama Peer. Karena Peer hadir di acara itu, dia pun memperkenalkan diri. Akhirnya, orang pun mengenali Peer. Bahkan, yang mengejutkan, ada seorang peserta yang mengetahui tentang demonstrasi yang melarang Peer tampil di Surabaya.

Dan puncaknya adalah ketika Peer, pada suatu hari, berada di sebuah lounge di hotel yang ditempatinya di Ubud. Ketika menuju lounge itu, Peer melewati seseorang yang sedang membaca koran. Peer merasa terkejut karena tiba-tiba disapa oleh si pembaca koran yang dia tidak mengenalinya. Rupanya, si pembaca koran itu ingin menunjukkan kepada Peer tentang sebuah tulisan tentang Peer. Koran yang memuat tulisan tentang Peer itu adalah koran Jakarta Post.

Akhirnya, ketika Peer menghadiri acara penutupan Ubud Writers Festival, Peer bagaikan selebriti. Peer dikenali banyak orang dan kegagalan-kegagalan terkait dengan acara Peer di Jakarta, Bandung, Surabaya pun tertutupi oleh ending yang tidak terduga.[]

Edisi 15 Oktober 2009
Sumber:http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=48&fid=484

Peer Holm Jorgensen: Perspektif Orang Denmark atas Tragedi 1965

Penulis Peer Holm Jorgensen mungkin sudah lupa banyak kata bahasa Indonesia yang dia pelajari 43 tahun lalu ketika dia masih menjadi pelaut. Tapi ingatannya tentang tragedi 1965, yang terjadi ketika kapalnya berlabuh di Indonesia, masih terpatri kuat dalam ingatannya.

Kenangan Jorgensen tentang masa-masa bergejolak itu bisa dibaca dalam novelnya The Forgotten Massacre (Denmark: Dar Glemte Massakre), yang diterbitkan oleh Qanita (Kelompok Mizan) dan terjadwal untuk diluncurkan pula dalam ajang Ubud Writers & Readers Festival di Ubud, Bali, minggu ini.

“Banyak orang bertanya bagaimana saya masih ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi 43 tahun lalu. Tapi peristiwa itu memang menjadi sesuatu yang saya ingat dalam sisa kehidupan saya,” kata Jorgensen.

Kapalnya berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada September 1965. Itu adalah kunjungan keduanya ke Indonesia setelah yang pertama pada 1963, dan dia bisa merasakan ketegangannya di sekeliling. “Jika Anda bekerja di pelabuhan, Anda akan tahu rutinitasnya, Anda akan tahu apa yang akan terjadi berikutnya,” katanya. “Pada 1 Oktober, tak ada orang yang datang dan tak ada penjelasan apa pun. Yang ada malah para tentara, tapi waktu itu rasanya normal saja. Kami juga tinggal sehari lebih lama.”

Dari Jakarta, kapalnya bertolak ke beberapa pelabuhan lain di Indonesia, termasuk ke Palembang, Sumatra Selatan, dan Surabaya, Jawa Timur, di mana dia mengalami pengalaman paling membekas seumur hidup. Di pinggir Sungai Musi, Palembang, dia berusaha menolong beberapa orang Indonesia untuk pergi ke Palembang, tapi kemudian mereka bertemu sekelompok orang yang menghadang mereka. Salah seorang dari mereka mengacungkan senjata api ke arah Jorgensen dan mengusirnya pergi setelah melucuti pakaian dan barang-barang Jorgensen.

“Saya yakin saya mendengar suara tembakan. Orang-yang yang saya coba bantu itu ditembak,” katanya. “Pada waktu itu, Anda tidak bisa membedakan mana yang tentara dan mana yang bukan. Ada terlalu banyak kebingungan.”

Di Surabaya, Jorgensen sedang berada di sebuah bar ketika peristiwa tembak-menembak pecah. Dia ingat ada seorang pria yang masuk ke bar dan penampilannya seperti tentara. Dia diikuti oleh seorang pria lain yang juga kelihatan seperti tentara. Lalu mereka mulai saling menembaki.
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu karena saya bersembunyi di bawah meja. Mereka menginjak tangan saya dan memukul saya dengan gagang senjata.”

Dari Surabaya, kapalnya kembali ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Hong Kong. Selama perjalanan ke sana, Jorgensen dalam keadaan setengah lumpuh, tidak bisa berjalan maupun bekerja. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan dan mendapat jahitan di sekujur tubuhnya.

Selama dia tinggal pada 1965, dia berkesempatan bertemu dan berbicara dengan banyak orang Indonesia, yang sebagian besar berkata bahwa Presiden Sukarno bisa melakukan apa pun yang dia mau. “Semakin banyak orang yang saya tanyai, semakin banyak pula jawaban berbeda yang saya dapat,” katanya.

“Beberapa orang bahkan tak mau menjawab. Itu adalah masa penuh ketegangan, tapi pada saat yang sama sebenarnya mereka orang-orang yang baik. Pada saat itu, Indonesia benar-benar membekas dalam hati saya. Saya tak pernah lupa apa yang terjadi.

“Saya tidak ingin menuduh siapa pun dengan buku ini,” lanjutnya. “Banyak orang tidak tahu apa yang terjadi waktu itu, bahkan Soeharto. Dia harus melakukan sesuatu yang dia rasa benar waktu itu. Saya yakin ada orang lain yang melakukannya di Indonesia. Tidak ada tentara dan partai politik yang terlibat. Saya pikir itu adalah permainan CIA,” tambahnya, merujuk ke agen intelijen Amerika itu.

Jorgensen mulai menulis naskah ini pada 1993, tapi dia berhenti karena tidak menemukan sumber yang bisa mengonfirmasi keyakinannya akan apa yang telah terjadi. Kemudian dia menulis Backlog, sebuah buku tentang manajemen yang diterbitkan pada tahun 2000, dan May God Save America (Må Gud bevare Amerika), sebuah novel yang berkisah tentang pria kulit hitam yang menjadi Presiden Amerika Serikat, diterbitkan tahun 2006.

Sementara novelnya disambut hangat di Denmark, tidak ada penerbit Amerika yang tertarik menerbitkannya karena negara itu sedang menjelang pemilu bersejarah mereka.

Selama mengerjakan novel keduanya, dia menemukan apa yang dia sebut sebagai bukti bahwa CIA terlibat dalam Tragedi 1965. Dia menunjuk perkataan Robert Martens, yang bekerja di Kedubes AS di Jakarta pada 1965, yang mengatakan,”Tangan saya mungkin berlumuran darah, tapi tidak separah itu, kok!”

Dia membaca artikel yang ditulis Kathy Kadane di New York Times. Artikel itu juga menyangkal keterlibatan AS: ”Robert Martens bekerja sendirian sepenuhnya, tanpa izin dalam bentuk apa pun, itu jelas dinyatakan oleh para pejabat resmi.”

Komentar lain yang dilontarkan oleh William Colby, yang mengepalai Divisi Asia Tenggara pada 1960-an: “...mungkin. Saya tidak ingat. Mungkin kami memang terlibat. Saya sudah lupa,” juga menjadi benih bagi buku ketiganya ini.

Jorgensen berkata bahwa dia berharap buku ini bisa membantu orang Indonesia menyembuhkan luka yang ditimbulkan Tragedi 1965. “Saya tidak yakin pengadilan bisa membantu menyembuhkan luka ini,” katanya.

“Anda harus bisa menerima bahwa hal itu sudah terjadi, tapi tak perlu menuduh siapa pun. Itu tidak akan menyembuhkan apa pun. Daripada terus membalas dendam, mereka bisa membantu Indonesia, apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia, seperti kata Kennedy.

“Di jadwal saya tidak ada agenda untuk bertemu dengan para keluarga korban, tapi saya ingin sekali bisa melakukan hal itu,” tambahnya.

Lahir pada tanggal 3 April 1946, Jorgensen punya tempat istimewa dalam hatinya untuk Indonesia sejak dia masih bersekolah. Dia dulu punya guru yang pernah bercerita tentang rute tempat-tempat yang sangat jauh. Dia lalu menggambar rutenya sendiri di atlasnya dari Denmark ke tempat-tempat itu. Dia masih menyimpan atlas itu.

Gurunya juga bercerita tentang sebuah konferensi tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, dia dan teman-temannya saling memberi nama-nama julukan para pemimpin negara-negara muda yang lahir setelah Perang Dunia Kedua, seperti Sukarno, Nehru, Nkruma, dan Lumumba. “Nama saya waktu itu Sukarno atau Lumumba, tergantung topiknya,” katanya sambil tersenyum.

“Indonesia punya banyak hal untuk ditawarkan kepada dunia selain tenaga kerja murah dan pantai-pantai yang cantik. Indonesia bisa memainkan peran penting dalam kancah dunia, seperti yang pernah dilakukan Sukarno.”

Dibesarkan di Frederikshavn, kota kecil di pantai timur laut Semenanjung Jutland, di Denmark Utara, Jorgensen menghabiskan masa kecilnya di pelabuhan, yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya. Kadang-kadang dia berlayar ke laut dan memancing dengan para nelayan, yang sering mengajaknya bolos sekolah. Dia ingin sekali melihat dunia pada waktu itu. “Ketika berusia 15 tahun, saya memutuskan untuk melaut,” katanya.

“Saya tidak berani meminta izin orangtua, jadi saya meminta adik perempuan saya untuk bilang ke orangtua, dan mereka bilang, ’Kalau memang itu maumu, lakukan saja.’”

Dengan bekerja di dapur kapal, Jorgensen berkelana ke banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang dari beragam latar belakang, etnis, agama, dan gaya hidup, yang setiap pertemuannya membuatnya bertambah yakin bahwa setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama.

“Saya tidak terlalu suka dengan apa yang telah dilakukan oleh ras kulit putih kepada dunia. Anda tidak mempunyai hak melakukan tindakan-tindakan jahat hanya karena warna kulit Anda,” katanya. “Tapi ada sejenis rasisme baru bernama keuangan. Selama kita bisa membuat orang lain tetap miskin, kita bisa memegang kendali. Inilah sebabnya kanapa kita tidak melihat negara apa pun di Afrika yang berfungsi dengan baik.”

Dia meninggalkan laut dan kembali ke Denmark pada 1969 untuk merampungkan sekolahnya, dan menekuni banyak bidang setelahnya. Dia pernah bekerja sebentar di Departemen Sistem dan Keuangan di Maersk, perusahaan perkapalan besar asal Denmark, lalu mencoba bidang perfilman, dan menjadi konsultan sumber daya manusia.

Pada 2006, dia mendirikan perusahaan penerbitan bernama ISOTIA untuk menerbitkan buku-buku yang menghubungkan umat manusia dengan masa lalu mereka, melalui masa kini untuk menuju masa depan. Sekarang dia sedang menggarap buku-buku berikutnya. Satu tentang takdir, dan satu lagi tentang nafsu manusia untuk berperang.

Tulisan ini diterjemahkan secara bebas oleh Indradya Susanto Putra, salah seorang editor Mizan, dari Sunday Post edisi Minggu, 11 Oktober 2009, yang adalah edisi Minggu koran Jakarta Post.

Edisi 15 Oktober 2009
Sumber:http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=48&fid=481

Peristiwa 1965 Dirancang CIA

Peristiwa 1965 Dirancang CIA

Sabtu, 03 Oktober 2009 | 01:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Peer Holm Jorgensen, pengarang novel The Forgotten Massacre: Persahabatan dan Cinta di Tengah Tragedi G-30-S PKI, yakin benar bahwa peristiwa 1965 dirancang oleh Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat. "Saya percaya 90 persen bahwa peristiwa ini didalangi CIA," kata pengarang berdarah Denmark ini dalam diskusi mengenai bukunya di Toko Buku Gramedia, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat lalu.

Keyakinannya ini lahir dari pengalaman Peer sebagai pelaut yang menjelajah berbagai belahan dunia dan menemukan bagaimana orang-orang kulit putih, khususnya Amerika Serikat, campur tangan dalam berbagai peristiwa politik berdarah di berbagai negara. Keyakinan itu semakin kuat setelah dia melakukan riset dan membaca berbagai dokumen tentang keterlibatan CIA dalam kudeta yang gagal pada September 1965, pembunuhan para jenderal, dan pembantaian terhadap orang-orang Partai Komunis Indonesia pada masa itu.

Novel The Forgotten Massacre diangkat dari pengalaman Peer saat berada di Indonesia ketika peristiwa itu terjadi. Novel ini mengisahkan perjalanan Kasper, pemuda Denmark yang bekerja sebagai asisten koki di kapal kargo Clementine, yang mengalami peristiwa itu ketika kapalnya berlabuh di Tanjung Priok pada September 1965. Peristiwa politik itu dibungkus Peer dengan kisah cinta Kasper dengan Nadia, peranakan Belanda-Padang yang bekerja di London Bar, tak jauh dari dermaga.

Novel ini terbit pertama kali dalam bahasa Denmark dengan judul Den Glemte Massakre pada Oktober 2007 dan edisi bahasa Inggrisnya akan diterbitkan di Amerika Serikat. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan Qanita (Grup Mizan) dan telah beredar di berbagai toko buku.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, apa yang diungkap dalam novel ini sebenarnya sudah ada dalam dokumen-dokumen dan buku sejarah yang telah terbit. "Kelebihan buku ini adalah karena kisah itu disampaikan dalam bentuk fiksi, sehingga ceritanya lebih terasa," katanya.

Kurniawan


Blog dr:
http://www.tempointeraktif.com/hg/buku/2009/10/03/brk,20091003-200578,id.html